Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Kuil di Myanmar Jadi Surga Ular Piton

Tesa Oktiana Surbakti
18/10/2018 17:15
Kuil di Myanmar Jadi Surga Ular Piton
(AFP)

PARA peziarah berbondong-bondong mendatangi sebuah kuil tengah danau yang berada di wilayah Yangon, Myanmar. Mereka menggantungkan harapan kepada kuil yang disebut surga ular piton, lantaran ular tersebut memenuhi lantai maupun jendela.

"Mereka yang datang ke sini percaya doa mereka akan terpenuhi. Syaratnya ialah ketika meminta sesuatu, tidak boleh terlalu banyak, hanya satu hal saja. Jangan serakah," ujar Sandar Thiri, seorang biarawati yang tinggal di kuil bernama Baungdawgyoke itu.

Penduduk setempat meyakini kehadiran puluhan ular piton berukuran 2-3 meter, sebagai tanda kekuatan yang dimiliki kuil. Seorang peziarah, Win Myint, mengungkapkan dirinya terbiasa mengunjungi kuil sedari kecil.

"Sekarang usia saya semakin tua. Akan tetapi, saya terus datang ke kuil untuk memberikan persembahan. Karena berkatnya sudah mewujudkan berbagai harapan," ucap Myint.

Di ruang utama kuil, terdapat pohon yang dikelilingi patung-patung Budhha. Sejumlah ular piton pun bergerak bebas melewati dahan pohon.

Dengan lidah terjulur, pandangan ular mengarah kepada para peziarah yang tengah bersujud. Tidak jauh dari situ, seorang biksu duduk di kursi dengan dua ular piton besar meringkuk di kakinya.

Badan ular seakan memegang sejumlah uang sekitar 1.000 kyat, yang diselipkan peziarah dengan harapan. Seorang pengunjung perempuan tampak berani mendekati ular piton, sekaligus mengusapnya.

Mitologi naga, yakni bahasa sansekerta untuk ular, merupakan sosok yang lumrah terlihat di berbagai kuil kawasan Asia Tenggara.

Bagaimanapun pengaruh antara Buddha, Hindu dan animisme, saling memiliki keterkaitan. Biasanya naga diukir dalam batu dan kemudian ditempatkan di pintu masuk kuil.

Akan tetapi, ular merayap di antara patung Buddha tentu menjadi pemandangan langka.

Bagi sebagian peziarah, perjalanan menuju Kuil Baungdawgyoke, di wilayah barat daya Kota Yangon, menjadi pengalaman spiritual yang tidak biasa. Gambaran ular meringkuk di samping biarawan yang tengah bermeditasi, mengingatkan peziarah pada kisah dalam mitologi Buddha. Tepatnya, saat Buddha duduk di bawah pohon untuk bermeditasi.

Menurut legenda, seekor ular kobra melindungi Buddha dengan membuat tudung lebar di atas kepalanya saat hujan turun.

Seorang petani bernama Nay Myo Tyu percaya akan memperoleh nasib baik apabila membawa ular ke dalam kuil. Dia yang beberapa kali menemukan ular saat berladang, meyakini ajaran Buddha bahwa semua makhluk hidup dapat bereinkarnasi sebagai manusia, sehingga haram dibunuh.

"Saya tidak ingin mengalami kesialan hanya karena membunuh makhluk hidup seperti ular. Lebih baik tangkap dan bawa ke kuil agar mendapatkan nasib baik," tukas Myo Tyu. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya