Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH perusahaan Eropa mengeluh karena mereka masih menghadapi iklim bisnis yang sulit di Tiongkok meskipun Negeri Tirai Bambu itu menjanjikan keterbukaan bisnis.
Hal itu terungkap lewat sebuah survei yang dirilis pada Rabu (20/6) di tengah ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) meningkat.
Para pengusaha Eropa mengeluhkan lingkungan hukum yang tidak pasti, biaya tenaga kerja yang lebih tinggi, peraturan yang rumit, dan firewall--pembatas besar yang menyensor sebagian besar internet global.
"Ketika ekonominya sudah matang, inefisiensi dalam lingkungan bisnis Tiongkok menjadi semakin mencolok," ungkap laporan majelis Uni Eropa.
Menurutnya, peraturan yang belum terbuka menjadi akar penyebab perekonomian tertahan. "Akar ketegangan yang kita lihat hari ini dimulai dengan Tiongkok yang belum terbuka dan bereformasi secepat yang dijanjikan dalam retorikanya," kata Mats Harborn, Ketua Kamar Dagang Uni Eropa di Tiongkok.
"Waktu bagi Tiongkok hampir habis untuk melanjutkan proses reformasi," kata Harborn.
Peraturan dunia maya baru Tiongkok dianggap mengalami kemunduran di beberapa wilayah dengan biaya lebih mahal untuk firewall, keharusan mendaftar ke jaringan pribadi maya yang juga mahal, persetujuan pemerintah agar pengguna dapat menghindari filter, dan akses internet global.
Dua pertiga perusahaan percaya bahwa pensensoran dan pemblokiran situs tertentu memiliki dampak negatif terhadap bisnis mereka, sementara hanya 23% mengatakan bahwa VPN yang didukung negara bersifat efisien.
"Ini adalah kontradiksi besar. Kami memiliki Tiongkok yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin dalam globalisasi, berbicara tentang pentingnya integrasi, tetapi hukum keamanan siber menciptakan masalah," imbuhnya.
Survei menemukan 48% dari 532 perusahaan Eropa merasa lebih sulit untuk melakukan bisnis dalam setahun terakhir. Seperlima dari mereka juga mengatakan telah menjadi korban transfer teknologi paksa, sebuah praktik yang dikecam keras oleh AS--yang melakukan penyelidikan atas masalah itu, tapi dibalas dengan ancaman tarif baru.
Namun, ada sedikit optimisme di masa depan dari separuh bisnis Eropa yang percaya kondisi sulit hanya akan berlangsung hingga lima tahun mendatang. Sekitar 61% yang disurvei mengaku optimis tentang pertumbuhan sektor mereka di Tiongkok ketimbang 55% pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, seperempat lainnya percaya tidak akan pernah menyaksikan pembukaan signifikan dari pasar.
Tercatat sebanyak 51% menganggap mereka diperlakukan tidak baik dibandingkan dengan pesaing lokal mereka atau menurun dibandingkan dengan 54% pada tahun lalu. (AFP/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved