Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Perempuan dan Anak-anak, Generasi Baru Pengebom IS

Irene Harty
19/6/2018 13:27
Perempuan dan Anak-anak, Generasi Baru Pengebom IS
()

HANYA masalah waktu sebelum lebih banyak perempuan dan anak-anak Indonesia dikorbankan sebagai pelaku bom bunuh diri. Pernyataan itu dilontarkan oleh seorang ahli kontraterorisme dan produser, Noor Huda Ismail, yang akan merilis film dokumenter barunya berjudul 'The Bride', tentang radikalisasi pekerja migran perempuan, pada Kamis (28/6), di Monash University, Melbourne, Australia.

Dia mengaku kejadian 13 Mei, pengeboman di gereja-gereja di Surabaya, Jawa Timur, masih mengguncangnya.

Sebabnya, dua bulan sebelum pengeboman di Surabaya, Ismail mewawancarai calon pengebom perempuan untuk film dokumenternya.

Ismail, yang sedang mengejar gelar PhD bercerita dia telah bertemu seorang perekrut Islamic State (IS) di Jawa Barat yang mengaku sedang mempersiapkan pelaku bom bunuh diri dengan anak 11 tahun di Suriah, meski pada akhirnya tidak terjadi.

"Jadi saya tahu ada sesuatu yang terjadi. Saya tahu bahwa ada kelompok khusus dari komunitas Indonesia yang terkait dengan IS yang berpikir tidak apa-apa mengorbankan anak-anak mereka sendiri untuk tujuan jihad," paparnya.

Namun, sayangnya, Ismail tidak tahu waktu dan caranya.

"Ketika itu benar-benar terjadi di Surabaya, saya benar-benar tidak bisa memahaminya," sahutnya.

Berbicara soal motivasi mereka, Ismail, yang telah membuat tiga film dokumenter tentang IS, mengatakan tujuan jihadis adalah untuk memastikan tempat di surga dengan mengorbankan anak-anak mereka.

"Mereka percaya mereka akan dipersatukan kembali di surga. Itu mengerikan," sahutnya.

Menurut Institut Analisis Konflik Kebijakan yang berbasis di Jakarta, 45 hingga 100 migran perempuan di Hong Kong terpikat pada IS antara 2015 dan 2017.

Sementara itu, dari 6 juta pekerja migran Indonesia, 78% adalah perempuan, menurut data Bank Dunia.

Mereka adalah perempuan kesepian yang jauh dari rumah ditambah masyarakat patriarki Indonesia juga memainkan peran penting dalam radikalisasi perempuan, meski berbeda dengan IS.

"IS bukan serigala-serigala melainkan sekawanan serigala yang telah dihidupkan kembali dan diperluas. Di Surabaya mereka memiliki jaringan sendiri, mereka menunggu saat yang tepat untuk melakukan serangan; mereka telah mempersiapkan selama berbulan-bulan," tandas Ismail.

Dalam film tersebut, Ismail, pendiri Lembaga Perdamaian Internasional Jakarta, bertemu dengan tiga perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan sedang mencari cinta lewat internet.

Satu menemukannya, tetapi dua lainnya dipikat oleh militan IS, dibujuk untuk menikahi mereka dan berpartisipasi dalam pendanaan teror dan 'amaliyah' (aksi teroris).

Dian Yulia Novi, salah satunya, menikah dan bekerja sebagai pembantu di Taiwan ketika meradikalisasi diri.

"Itu di Facebook ... selama setahun terakhir saya membuka status Facebook jihadis, itulah yang mengilhami saya," katanya dalam film itu.

Berusia 28 tahun dan akan menjadi seorang ibu, dia ditetapkan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri perempuan pertama di Indonesia, atau pengantin IS, dalam rencana serangan ke istana kepresidenan Jakarta.

"Saya memutuskan untuk menikah, saya diberikan proksi, dan suami saya mengatur pernikahan kami," kata Dian.

Namun, pada Desember 2016, malam sebelum serangan yang direncanakan, dia ditangkap di Bekasi, Jawa Barat dengan bom 3 kg terbungkus dalam pressure cooker.

Dia dijatuhi hukuman tujuh setengah tahun penjara.

Plot itu melibatkan teror yang didirikan oleh militan Indonesia Bachrun Naim.

Suaminya, Nur Solihin, yang juga direkrut dan diperintahkan oleh Naim untuk mencari pengantin, juga dituduh.

Beberapa hari setelah penangkapan Dian, perempuan Indonesia lainnya Ika Puspitasaran ditangkap karena merencanakan serangan bunuh diri pada Malam Tahun Baru di Bali.

Dia pernah bekerja sebagai pembantu di Hong Kong dan direkrut di media sosial oleh IS dan terlibat dalam pendanaan teror.

Ika juga telah meradikalisasi diri di media sosial dan menikah dengan seorang garis keras yang tidak dikenal bersekolah di Jawa Barat secara jarak jauh.

"Pada waktu itu, saya berada di Hong Kong, suami saya berada di sebuah pesantren. Jadi yang menikahi kami adalah guru agamanya dari sekolah. Sumpah itu terjadi nanti malam, jadi setelah menyelesaikan upacara saya dihubungi lagi," kata Ika.

Keluarga dan tetangga mereka berdua terkejut karena perilaku keduanya yang normal dan baik. (SBS.com.au/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya