Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Perayaan Hari Kemenangan di Rusia

Panca Syurkani
18/6/2018 23:42
Perayaan Hari Kemenangan di Rusia
(AFP PHOTO / Vasily MAXIMOV)

SAAT umat muslim di wilayah Indonesia bagian barat menyantap makanan berbuka puasa terakhir Ramadan tahun ini, Kamis (14/5) lalu, umat muslim di Moskow--dengan perbedaan waktu lebih lambat empat jam, masih menunggu sekitar tujuh jam hingga pukul 21.16 waktu setempat. Sedangkan di sepuluh zona waktu Rusia lainya ada yang lebih dulu berbuka dan ada yang masih harus berpuasa lebih lama dari kami.

Sebagai negara terbesar di dunia dan satu-satunya negara yang membentang dari wilayah Eropa hingga wilayah Asia dan luas melebihi 17 juta kilometer persegi atau lebih dari delapan kalinya wilayah Indonesia yang 1,9 juta kilometer persegi, sudah pasti zona waktu di Rusia juga lebih banyak ketimbang Indonesia.

Di Saint Petersburg, meski memiliki zona waktu yang sama dengan Moskow, di sana lama berpuasa lebih lama, yaitu sekitar 20 jam lebih karena sedang berlangsung fenomena ‘Malam Putih’. Waktu imsak di hari tekrahir berpuasa jatuh pada pukul 01.44 dan matahari terbenam sekitar pukul 22.23.

Meski sehari lebih awal melaksanakan puasa Ramadan dibandingkan Indonesia, muslim Rusia merayakan Idul Fitri bersamaan dengan Indonesia. Jika di tanah air lantunan takbir bersahut-sahutan menyambut hari kemenangan, tak satupun suara takbir terdengar di Moskow, karena tidak ada tradisi malam takbir. Hari-hari biasa pun suara azan tak diperdengarkan keluar masjid, hanya di wilayah otonomi mayoritas muslim saja hal itu dilakukan.

Namun di malam yang sama, seluruh masyarakat Rusia merayakan kemenangan lain. Tim Nasional (Timnas) mereka berhasil membuat Timnas Arab Saudi bertekuk lutut 5-0 pada laga perdana. “Ru…si..a, Ru…si..a,” begitu puluhan ribu pendukung merayakan kemenangan yang tak disangka-sangka tersebut.

Wajah mereka sumringah menggambarkan rasa puas dan gembira saat meninggalkan arena laga yang telah memberi harapan kepada Timnas mereka untuk dapat melaju lebih jauh sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018.

“Saya sangat puas dengan permainan tim kami hari ini,” ujar Andrei, supir taksi saya yang terus menerus membahas jalanya pertandingan dan juga ekspresi Vladimir Putin dan Pangeran Putera Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat bola merobek gawang penjaga gawang Arab Saudi Abdullah Al-Mayouf.

Hal ini sangat berbeda saat saya menanyakan harapan pendukung Timnas Rusia saat pertandingan Rusia melawan Brasil pada pertandingan persahabatan di Stadion Luzhniki pada 23 Maret lalu.

Dua orang pendukung Rusia yang saya wawancara waktu itu, Kiril dan Labadan, mengatakan tidak akan berharap banyak pada Timnas Rusia, namun akan tetap menyemangati sebagai dukungan moral.

“Kami tidak yakin rusia akan melaju jauh, tapi kami akan tetap menyemangati mereka. Semoga saja bermain di rumah sendiri akan membantu permainan,” ujar Kiril dan Labadan saling menimpali sambil mengantri membeli tiket pertandingan.

Keesokan paginya puluhan ribu muslim Rusia menunaikan shalat Idul Fitri di Masjid Katedral Moskow. Masjid utama Ibu Kota Rusia berkapasitas 10 ribu jamaah yang dalam bahasa rusianya adalah ‘Moskovskaya Sabornaya Mechet’ ini tak dapat menampung puluhan ribu jamaah hingga jamaah memenuhi di jalanan sekitar masjid.

Islam merupakan agama terbesar kedua di Rusia dengan jumlah pemeluk mencapai 25 juta orang atau 14 persen dari total jumlah penduduk Rusia yang berkisar 144 juta orang. Namun, di Rusia sendiri Idul Fitri bukan merupakan hari libur nasional, kecuali di wilayah otonomi yang mayoritas penduduknya muslim. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya