Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGENALAN asisten digital Google atau Google Assistant yang dapat berbicara begitu alami menyerupai manusia berbicara pada pekan ini membuat kagum para pengamat. Tetapi keberadaan asisten besutan raksasa teknologi Google itu menimbulkan keresahan soal etika penggunaan perangkat lunak seperti manusia.
Google Assistant menjadi bintang pada Konferensi Google I/O, konferensi tahunan developer yang digelar Google pekan ini di kota kelahirannya, Mountain View, California.
CEO Google Sundar Pichai, dalam konferensi tersebut, Selasa (8/5), memutar rekaman Google Assistant yang tengah menelepon salon dan restoran untuk membuat pemesanan. Si asisten digital itu berinteraksi dengan staf yang tidak menyadari sedang berbicara dengan perangkat lunak kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) bukan manusia.
Saat itu,Google Assistant memesan meja untuk 4 orang pada pukul 18.00. Asisten terdengar seperti manusia lengkap dengan ungkapan seperti 'ums' dan 'uhs'.
"Inilah yang sering dilakukan orang ketika mereka menggali ide pikiran mereka," kata insinyur Google, Yaniv Leviathan dan Yossi Matias dalam posting blog Duplex.
Asisten digital juga diprogram untuk memahami kapan harus merespons dengan cepat, seperti setelah seseorang mengatakan 'halo', atau berhenti sejenak seperti seseorang sebelum menjawab pertanyaan rumit.
Google menempatkan asisten yang disempurnakan tersebut sebagai keuntungan potensial bagi orang-orang sibuk dan usaha kecil yang tidak memiliki situs pelanggan untuk membuat janji.
"Visi kami untuk asisten kami adalah untuk membantu Anda menyelesaikan banyak hal," kata Pichai di hadapan sekitar 7.000 developer bersama dengan pemirsa daring yang menonton presentasi streaming.
Namun, Google Assistant buatan yang dijalankan dengan teknologi Duplex itu selain mengejutkan, juga dirasa mengganggu bagi sebagian orang. Demonstrasi Duplex pun dengan cepat diikuti perdebatan.
Perdebatan itu mengenai apakah orang yang menjawab telepon harus diberi tahu bahwa mereka sedang berbicara denga perangkat lunak yang terdengar seperti manusia dan bagaimana teknologi tersebut dapat disalahgunakan sebagai 'robocalls' yang lebih meyakinkan oleh para sales atau kampanye politik.
"Google Duplex adalah hal yang paling luar biasa dan menakutkan dari #IO18 sejauh ini," tweeted Chris Messina, seorang desainer produk.
"Google Duplex adalah perkembangan penting untuk menandai kebutuhan mendesak bagaimana mengetahui tata kelola mesin yang tepat yang dapat membodohi orang untuk berpikir bahwa mereka adalah manusia," kata Kay Firth-Butterfield, Kepala AI dan Proyek Pembelajaran Mesin di Pusat Forum Ekonomi Dunia untuk Revolusi Industri Keempat.
"Mesin-mesin ini dapat memanggil atas nama partai politik dan membuat rekomendasi yang lebih meyakinkan untuk pemungutan suara," klaim Firth-Butterfield.
Pada saat kekhawatiran meningkat tentang privasi online, ada juga kekhawatiran yang diungkapkan tentang jenis data apa yang mungkin dikumpulkan asisten digital dan siapa yang dapat akses.
Berbagai komentar di Twitter berpendapat ada pelanggaran etik jika tidak membiarkan orang tahu bahwa mereka sedang berbicara dengan perangkat lunak.
Google sendiri belum merespons kekhawatiran itu, tetapi akan meningkatkan asisten digital buatannya dalam beberapa bulan ke depan. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved