Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan bahwa resolusi Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak efektif menghentikan niat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memindahkan kedutaan besar mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Menurut Hikmahanto, ada alasan tersendiri mengapa Trump mengambil keputusan tersebut.
"Masalah Palestina dan Israel berkaitan dengan suatu bangsa yang diusir untuk menduduki suatu wilayah. Kemudian masalah tambah gaduh ketika Trump mengumumkan keputusannnya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel," ucapnya saat ditemui di Student Center Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Jakarta, Sabtu (23/12).
"Ada tiga alasan Trump membuat keputusan tersebut, pertama dia ingin konsisten atas janji kampanyenya dan mencoba merealisasikannya. Kedua, Kongres AS sudah mengeluarkan Jerusalem Embassy Act pada 1995, kemudian dia juga seolah tidak ingin melihat reaksi dunia," lanjut Hikmahanto.
Karenanya, menurut dia, PBB hanya akan menyudutkan Trump, namun mungkin tidak bisa membuat dia mengubah keputusannya. Namun, Hikmahanto melanjutkan, masyarakat AS bisa membuat Trump mencabut keputusannya atau malah mencopot Trump dari jabatannya.
Pasalnya, tindakan Trump tersebut memicu ketidakstabilan dunia. Hal tersebut malah membahayakan proses perdamaian yang dijalankan di dunia internasional.
"AS di bawah Trump ternyata bisa otoriter dengan cara mereka ini. Padahal, mereka selalu menggaungkan bahwa AS adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Mereka telah kehilangan legitimasi, kampiun demokrasi dan bahkan kehilangan kepercayaan untuk menjadi mediator," ucapnya.
"AS akan mengalami kemunduran luar biasa di bawah pimpinan Trump," tegasnya.
Karenanya, rakyat AS bisa melihat situasi ini dan berpikir mengenai masa depan negara tersebut di tangan Trump. Dia yakin banyak masyarakat AS yang sudah mulai terbuka matanya melihat otoriter Trump.
Terlebih, ancaman dia akan membuat catatan bagi negara-negara yang tidak mendukung keputusannya tersebut, belum tentu akan dilaksanakan oleh staf birokrasinya.
Dunia bersatu menolak keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Penolakan tersebut ditunjukkan dalam Sidang Majelis Umum PBB khusus yang membahas mengenai masalah Yerusalem.
Dalam sidang tersebut, 128 negara mendukung keputusan Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan keputusan Trump tersebut. Keputusan Trump hanya didukung 9 negara, sementara 35 lainnya memilih abstain. (MTVN/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved