Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Trump Gunjingkan Korea Utara Sepanjang Tur Asia

Irene Harty
08/11/2017 19:19
Trump Gunjingkan Korea Utara Sepanjang Tur Asia
(AFP/Lee Jin-man)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump berniat menghidupkan gerakan global tanpa kompromi untuk melawan ambisi senjata nuklir dari kediktatoran di Korea Utara (Korut).

Pemerintahan Trump pun melihat Tiongkok sebagai kunci untuk mengendalikan Korea Utara, yang perdagangannya bergantung 90% pada Tiongkok.

Namun, saat tiba di Tiongkok pada Rabu (8/11) dalam rangka tur Asianya, Trump memberikan banyak pujian kepada Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Trump mengucapkan selamat kepada Xi atas pengangkatannya kembali sebagai Kepala Partai Komunis Tiongkok lewat Twitter.

"Saya sangat berharap bisa bertemu dengan Presiden Xi yang baru saja memenangkan kemenangan politiknya yang besar," tulisnya.

Trump menggunakan istilah 'kemenangan politik' untuk hasil kongres Partai Komunis bulan lalu untuk mengimbangi Xi sebelum memulai perundingan sulit mengenai perdagangan dan Korea Utara.

Dia membawa delegasi bisnis untuk perjalanan itu dengan harapan penandatangan kesepakatan meskipun para analis ragu itu akan meredakan kekhawatiran AS mengenai surplus perdagangan Tiongkok.

Setelah Trump mendapat pelayanan karpet merah dari Jepang dan Korea Selatan, Xi pun tidak mau kalah. Dia akan menawarkan 'kunjungan royal kenegaraan' dengan sebuah tur ke Kota Terlarang, seorang penjaga kehormatan militer, dan perjamuan mewah.

"Dia meletakkan Xi di tempat yang tinggi untuk membuat suasana hati Xi baik karena dia akan memberi hal-hal yang tidak menyenangkan untuk diceritakan," kata Ahli Politik China di Hong Kong Baptist University, Jean-Pierre Cabestan.

Akan tetapi seperti tujuan awalnya, saat berkunjung ke Korea Selatan, Trump mendesak Tiongkok untuk berbuat lebih banyak dalam mengendalikan sekutu era Perang Dinginnya.

Dalam pidatonya, dia menyebut Korut dalam rezim yang kejam dan lalim yang dijalankan seperti pemujaan. "Di pusat kultus militer ini ada kepercayaan gila dalam takdir pemimpin untuk memerintah sebagai pelindung orang tua di atas penaklukan semenanjung Korea dan orang-orang Korea yang diperbudak," kata Trump.

Anggota parlemen Korea Selatan bertepuk tangan untuk Trump yang berjanji tidak terintimidasi dan memeringatkan Korut bahwa AS tidak goyah. "Kami tidak akan mengizinkan Amerika atau sekutu kami untuk diperas atau diserang," kata Trump.

Saat ke Korsel, Trump melakukan kunjungan mendadak ke Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membagi dua Korea, tapi dia 'cukup frustasi' karena cuaca buruk.

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-In, yang tiba sebelum kabut, menunggunya di perbatasan yang dipenuhi pagar listrik, ladang ranjau, dan rintangan anti-tank.

Dalam pidatonya, Trump menggambarkan DMZ sebagai 'garis yang memisahkan yang tertindas dan yang bebas', tempat 'akhir yang subur dan awal negara sedih terpenjara'.

Akan tetapi sembari mengecam tindakan Korut, Trump juga menawarkan kerja sama kepada Pemimpin Korut, Kim Jong-Un dalam bidang teknologi senjata.

"Sebutan 'diktator kejam' untuk Kim cukup untuk memprovokasi Korea Utara karena sistem Korea Utara sangat mementingkan martabat kepemimpinannya", kata Pakar dari University of North Korean Studies, Yang Moo-Jin.

Sponsor Terorisme

Selain mengumpulkan gerakan global untuk melawan Korut, Trump juga akan memutuskan penunjukkan kembali Korea Utara sebagai 'sponsor terorisme' atau tidak pada akhir turnya minggu depan.

Sebelumnya, penunjukkan itu pernah dilakukan oleh Mantan Presiden AS, George W Bush pada 2008. Penunjukan ulang akan menempatkan Korut kembali dalam daftar hitam formal yang akan menimbulkan sanksi sepihak.

"Presiden mengatakan dia akan membuat tekad pada akhir perjalanan," kata Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders sebelum turut ke Tiongkok.

Setelah Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, Trump akan berangkat ke Vietnam Jumat (10/11) sebelum mengunjungi Filipina dari 12-13 November.

Trump memberlakukan undang-undang pada Agustus yang dipaksakan ke Kongres AS, untuk mendesak sanksi ekonomi dan politik baru terhadap Iran, Rusia, dan Korea Utara.

Satu klausul dari tindakan tersebut mewajibkan Departemen Luar Negeri AS untuk menyatakan Korut harus dilabeli sebagai sponsor teror atau tidak dalam 90 hari.

Namun, Pejabat Senior Gedung Putih menyebut upaya Bush dahulu tidak berjalan dengan baik dan Trump harus memastikan Korut memenuhi kriteria teror yang disponsori teror atau tidak. (AFP/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya