Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
"KAMI tidak tahu apakah rumah kami masih ada di sana," kata Jamalia Pindaton, 29, seraya memeluk putrinya yang berusia baru enam bulan di sebuah pusat evakuasi yang berlumpur di sebuah kebun kelapa di Balo-i, 20 kilometer (12 mil) dari Marawi, Kamis (26/10).
Pindaton mengungkapkan, keadaannya sedang sulit disini, ditambah para pengungsi tidak punya penghasilan dan hanya bisa mengandalkan bantuan.
Lebih dari 350.000 orang dari dalam dan sekitar Marawi, ibukota Islam Filipina yang mayoritas beragama Katolik, mengungsi karena konflik Negara Islam (IS), yang berakhir pada Senin (23/10) saat tentara membunuh anggota IS yang tersisa di dalam sebuah masjid.
Tapi, dengan separuh bagian timur Marawi hampir hancur total dan kekhawatiran akan bom yang ditanam oleh militan, pihak berwenang mengatakan, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum kebanyakan orang dapat kembali.
Menurut pemerintah setempat, sejauh ini, sekitar 10.000 penduduk Marawi telah diizinkan untuk kembali, kebanyakan mereka yang tinggal di dekat Universitas Negeri Mindanao yang berada di luar zona pertempuran.
"Adapun, sekitar 33.000 lainnya, yang rumahnya berada dalam daerah-daerah yang dikuasai tetapi terhindar dari perang terburuk, akan menyusul minggu depan," ujar Kepala Kesejahteraan Sosial Regional Zorahayda Taha.
Komite Internasional Palang Merah, yang telah membantu pengungsi tersebut, memperkirakan antara 30.000-40.000 penduduk paling rentan memerlukan bantuan makanan, tempat tinggal, mata pencaharian dan perumahan hingga beberapa tahun.
"Ini sesuatu yang sangat tidak biasa yang sayangnya kita lihat di belahan dunia lain, seperti di Timur Tengah atau bahkan di Afrika," kata Roberto Petronio, kepala ICRC di Filipina selatan, kepada AFP.
Bahkan bagi mereka yang telah berhasil kembali ke rumah dalam beberapa hari ini, penjarahan yang meluas dan kehancuran umum di kota telah membuat mereka termangu.
"Pintu kami rusak dan saya menemukan pakaian kami berserakan di lantai. Persediaan makanan kami juga hilang," penjaga toko wanita Nurhana Sangcopan mengatakan saat dia memeriksa rumahnya di distrik Mara Basi, Marais, Kamis (26/10).
Banyak pengungsi tinggal dengan saudara dan teman, namun puluhan ribu orang lainnya yang tidak memiliki kerabat atau sanak saudara, seperti Pindaton, terpaksa tinggal di pusat evakuasi sementara. Pemerintah mengatakan, sedang membangun perumahan murah baru untuk kelompok ini.
Masalah utama lainnya adalah pendidikan. Universitas Negeri Mindanao dibuka kembali sebelum berakhirnya konflik, namun banyak siswa sekolah dasar dan siswa SMA tidak punya tempat untuk belajar.
"Siswa kelas tiga telah berhenti sekolah karena kami tidak dapat menyediakan uang ongkosnya," kata Subaida Marangit, 46, seorang ibu janda dari lima orang yang kehilangan bisnisnya.
Keluarganya yang berjumlah enam orang sekarang tidur di lantai bambu dan pondok kelapa yang penuh dengan nyamuk di sebuah pusat evakuasi di pinggiran Marawi. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved