Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEPERANGAN melawan kelompok Islamic State (IS) telah usai. Namun, Raqa, Suriah, telanjur hancur. Bahan-bahan peledak dan ranjau mengotori wilayah itu, sedangkan listrik dan air sulit didapat.
Empat bulan pertempuran sengit termasuk serangan udara koalisi pimpinan AS yang tanpa henti juga telah meruntuhkan gedung-gedung bertingkat dan membuat lainnya terpisah oleh artileri berat dan tembakan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 80% kota tidak dapat dihuni dan infrastruktur dasar Raqa sekarang hampir tidak ada pada September lalu.
Kelompok-kelompok bantuan dan PBB menyebut pembersihan dan pembangunan kembali modal utama de facto Suriah dari IS itu butuh upaya besar, mahal, dan lama.
"Beberapa bulan lalu, sumber-sumber setempat melaporkan kekurangan makanan, obat-obatan, listrik, air minum, dan barang-barang kebutuhan dasar yang krusial," kata juru bicara kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, Linda Tom, kemarin.
Selain itu, terdapat laporan penyakit yang ditularkan melalui air dan mayat yang tidak dikubur. "Itu menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang serius," lanjutnya seperti dilansir NDTV.com.
Selama berbulan-bulan warga kehabisan air dan hanya beberapa mata air yang tersisa sebelum fase terakhir pertempuran di kota itu.
Tidak ada pasokan listrik sama sekali karena tiang-tiang listrik hancur dalam pertempuran, sedangkan generator hanya menyala dua jam sehari berkat bahan bakar.
Fasilitas medis juga tidak ada yang buka dan sekolah sudah lama tutup, menurut organisasi nonpemerintah.
Uni Eropa menjanjikan US$3,5 juta untuk upaya penambangan dan Amerika Serikat (AS) beserta koalisi pimpinannya menjanjikan beberapa bantuan untuk proyek jangka pendek 'efek cepat'.
Relawan menyebut pertemuan antara donor, pejabat lokal, dan organisasi nonpemerintah sedang berlangsung, tapi harga akhir untuk rekonstruksi belum diketahui, begitu pula dengan pihak yang mendanai sebagaian besar.
"Kami khawatir setelah operasi militer selesai, perhatian masyarakat internasional akan bergeser," sahut Direktur Sementara Organisasi Nonpemerintah Mercy Corps Suriah, Arnaud Quemin.
Menurutnya, intinya, akhir pertempuran ialah saat paling akut dalam krisis dan akan memakan waktu sebelum dapat dilakukan perbaikan.
Save the Children juga mengatakan investasi substansial dibutuhkan untuk merekonstruksi rumah-rumah, fasilitas kesehatan dan sekolah yang hancur, serta memindahkan ranjau yang tidak meledak, sebelum rakyat pulang dengan selamat. "Serangan militer di Raqa mungkin akan segera berakhir, tetapi krisis kemanusiaan lebih besar dari sebelumnya," kata Direktur Save the Children Suriah, Sonia Khush. (AFP /I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved