Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
GERAKAN Islam Hamas menuding Amerika Serikat (AS) terlalu dalam mengintervensi dan secara terang-terangan dalam urusan Palestina setelah utusan Presiden AS Donald Trump, Jason Greenblatt menuntut pelucutan senjata dan mengakui Israel dalam pemerintahan persatuan, pada Kamis (19/10).
"Ini adalah campur terang-terangan dalam urusan Palestina karena hak rakyat kita untuk memilih pemerintahannya disesuaikan dengan kepentingan strategis tertinggi mereka," kata Pejabat Senior Hamas, Bassem Naim.
Naim menuduh Greenblatt telah melakukan negosiasi internasional dan tunduk pada tekanan pemerintah sayap kanan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. "AS mendapat tekanan dari pemerintah sayap kanan, Netanyahu dan sejalan dengan pernyataannya dua hari yang lalu," lanjut Naim.
Untuk diketahui, Greenblatt mengeluarkan pernyataannya pada Kamis (12/10) lalu dengan janji tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah persatuan Palestina termasuk Hamas kecuali tuntutan dipenuhi.
"Setiap pemerintah Palestina harus secara tegas dan eksplisit berkomitmen pada tindakan non-kekerasan, mengakui negara Israel, menerima kesepakatan dan kewajiban sebelumnya antara para pihak, -termasuk melucuti teroris - dan berkomitmen pada negosiasi damai," ungkap Greenbalt.
"Jika Hamas memainkan peran apa pun dalam pemerintahan Palestina, dia harus menerima persyaratan dasar ini," tambahnya.
Hamas dan pesaingnya, Fatah, telah melakukan kesepakatan rekonsiliasi pada pekan lalu di Kairo yang berisi kelompok Islamis menyerahkan kontrol Gaza ke otoritas Palestina yang diakui secara internasional pada 1 Desember.
Pembahasan juga mengharapkan adanya pembentukan sebuah pemerintahan persatuan setelah perpecahan selama sepuluh tahun ini.
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Presiden Palestina, Mahmud Abbas telah mengakui Israel tapi tidak dengan Hamas yang masuk dalam daftar hitam organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa.
Israel dan Hamas telah bertempur dalam tiga perang sejak 2008, dan Jalur Gaza berada di bawah blokade Israel selama lebih dari satu dekade. Mesir juga telah menjaga perbatasannya dengan Gaza yang sebagian besar ditutup dalam beberapa tahun terakhir.
Hamas menguasai Jalur Gaza sejak merebutnya dalam perang saudara dengan Fatah pada 2007 setelah perselisihan pemilihan yang dimenangkan oleh gerakan Islam tersebut. (AFP/IOL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved