Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Polisi dan FBI Minta Bantuan Masyarakat Usut Motif Pembunuhan di Las Vegas

MICOM
07/10/2017 12:09
Polisi dan FBI Minta Bantuan Masyarakat Usut Motif Pembunuhan di Las Vegas
(AP/JOHN LOCHER)

KEPOLISIAN dan Federal Beareau Investigation (FBI) yang masih kebingungan dan belum mengetahui motif di balik peristiwa pembantaian Las Vegas, pada Jumat (6/10) meminta bantuan warga yang mungkin memiliki informasi agar mereka bisa mengungkap misteri tersebut.

Penembakan membabi buta oleh pelaku tunggal, Stephen Paddock, 64, lima hari lalu, menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 400 orang lainnya. Kevin McMahill dari Kepolisian Clark County mengakui bahwa para penyidik
masih belum menemukan titik temu setelah menyisir lebih dari 1.000 petunjuk untuk mengungkapkan apa yang mendorong seorang pensiunan kaya penggemar judi itu melakukan penembakan dengan korban terbanyak dalam sejarah AS modern.

Paddock, secara membabi buta menumpahkan rentetan tembakan dari kamar hotel lantai 32 ke arah 20.000 penonton festival musik, lalu bunuh diri sebelum polisi mendobrak kamar hotelnya.

Selain 58 orang tewas, hampir 500 orang lainnya mengalami cedera, baik akibat terkena peluru atau pun terinjak-injak saat mencari tempat berlindung.

Dalam keterangan terbaru, pihak berwajib mengatakan bahwa dua butir peluru Paddock menghantam tanki bahan bakar pesawat jet, beberapa blok dari arena konser dan penemuan tersebut menandakan bahwa pria tersebut berusaha untuk menciptakan kekacauan lebih besar.

Menurut keterangan petugas bandara yang berada tidak jauh dari arena konser, ledakan tidak terjadi karena bahan bakar jet tersebut tidak bisa terbakar oleh tembakan senjata api.

Berbeda dengan pelaku penembakan yang banyak terjadi sebelumnya, Paddock sama sekali tidak meninggalkan pesan, pernyataan atau rekaman, serta pesan di media sosial. "Kami telah mempelajari semuanya, mulai dari kehidupan pribadi, afiliasi politik, perilaku sosial, kondisi ekonomi, atau kemungkinan paham radikal," kata McMahill.

"Kami juga sudah menyelidiki setiap aspek dari kelahiran sampai kematian tersangka serta kasus lainnya," katanya.
McMahill juga mengakui bahwa kelompok ISIS berulang kali menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut, tapi berdasarkan penyidikan, sama kali tidak ditemukan "hubungan" antara kelompok militan dari Timur Tengah tersebut dengan Paddock.

Dalam sebuah upaya yang tidak lazim untuk menjaring informasi, pihak FBI dan polisi telah menjalin kerja sama dengan perusahaan komunikasi Clear Channel untuk memasang papan pengumuman di sekitar Las Vegas berisi imbauan agar warga yang mempunyai informasi ikut membantu para penyidik.

Aaron Rouse, agen khusus FBI yang menangani kasus Las Vegas, menyatakan bahwa papan pengumuman tersebut berbunyi "Jika Anda mengetahui sesuatu, sampaikanlah," serta juga memberikan nomor saluran khusus yang bebas biaya. "Kami tidak berhenti, kami baru akan berhenti sampai kami menemukan kebenaran," katanya.

Menurut McMahill, para penyidik cukup lega karena tidak ditemukan orang lain di kamar hotel tersebut bersama Paddock, yang masuk Hotel Mandalay Bay tiga hari sebelum pembantaian. "Kami sangat yakin kalau tidak ada orang penembak lain di kamar tersebut," katanya.

Tapi pihak polisi juga menduga bahwa Paddock bisa jadi mendapat bantuan orang lain karena sebelum melancarkan aksinya, ditemukan senjata dalam jumlah besar, anumisi dan bahan peledak di kamar hotel, rumah, mobil serta
di rumah keduanya yang digeledah di Reno.

Pihak berwajib juga mengungkapkan, sebanyak 12 pucuk senjata yang ditemukan kamar hotel dilengkapi dengan alat "bump-stock" yang membuat senjata semi otomatis bisa dioperasikan seperti layaknya senjata otomatis penuh.

Kemampuan Paddock untuk melepaskan ratusan peluru per menit dalam rentang waktu sekitar sepuluh menit tembakan secara keseluruhan, merupakan faktor utama jatuhnya banyak korban. Pembantaian bisa berlangsung lebih lama dan korban lebih banyak seandainya pihak keamanan hotel tidak segera menemukan posisi datangnya tembakan.

Menurut berbagai laporan yang beredar dalam beberapa hari terakhir, Paddock juga sedang mengincar aksi serangan yang sama di Chicago dan Boston.

Dalam pengusutan lanjutan, Marilou Danley, 62, kekasih Paddock, sudah diperiksa oleh FBI pada Rabu (4/10) lalu dan mengakui bahwa ia sama sekali tidak punya firasat atas rencana Paddock.

Danley yang baru kembali dari kunjungan keluar ke Filipina, dianggap oleh penyidik sebagai "sosok yang menarik". Warga Australia kelahiran Filipina itu oleh pengacaranya digambarkan sebagai pribadi yang sangat kooperatif
dengan pihak berwajib.(Reuters/Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya