Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MARILOU Danley, kekasih Stephen Paddock, pelaku penembakan di Las Vegas, Amerika Serikat (AS), yang menewaskan 59 orang akhir pekan lalu, mengaku sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan pria yang ia sebut ‘baik, penyayang, dan pendiam’ tersebut.
Danley tiba di AS dari Filipina dua hari setelah Paddock melancarkan serangan mematikan dari kamarnya di lantai 32 Mandalay Bay Hotel and Casino dengan target ribuan pengunjung festival musik, Minggu (2/10) malam.
Dalam keterangan pertamanya kepada Biro Penyelidikan Federal (FBI), Rabu (4/10) waktu setempat, Danley mengaku ia mengharapkan masa depan yang tentram dengan Paddock. "Saya mencintainya dan berharap masa depan yang tenang bersamanya," ujar Danley, yang mengaku terkejut mengetahui aksi pembantaian yang dilakukan sang kekasih.
Dalam keterangan yang dibacakan pengacaranya, Danley mengaku Paddock tidak pernah mengatakan sesuatu kepadanya atau bertindak yang mengindikasikan insiden di Las Vegas bakal terjadi.
Danley secara sukarela bertolak ke Los Angeles dari Filipina untuk bertemu dengan FBI. Kepergian Danley ke kampung halamannya terjadi dua pekan setelah Paddock tiba-tiba memberikan ‘tiket murah’ agar dia bisa mengunjungi keluarga.
Ketika di Filipina, Danley mengungkapkan, Paddock mengirimkan uang sebesar US$100.000 (Rp1,3 miliar), dan berkata uang itu diberikan agar Danley bisa membeli rumah.
"Saya bersyukur, namun sejujurnya saya risau karena mungkin itu cara dia meminta putus hubungan dengan saya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa dia telah merencanakan aksi kekerasan terhadap siapapun," kata Danley seperti diutarakan pengacaranya.
Saudari kandung Danley memaparkan dugaannya kepada laman berita Australia, 7News, bahwa Danley sengaja disuruh menjauh oleh Paddock. “Sehingga dia tidak di sana (Las Vegas) untuk mencampuri rencananya," ujarnya.
Paddock menginap di lantai 32 Hotel Mandalay Bay pada 28 September, menggunakan beberapa dokumen identitas Danley. Polisi menemukan 23 puncuk senjata di kamar hotelnya, dan lebih dari 19 senjata api dan bahan peledak di rumahnya di Mesquite, Nevada.
Clark County Sheriff Joseph Lombardo mengatakan motivasi Paddock dan apakah ada kemungkinan komplotan masih menjadi misteri.
Aaron Rouse dari FBI mengaku sejauh ini tidak menemukan kaitan serangan mematikan tersebut dengan terorisme internasional, meski ada klaim dari kelompok teroris Islamic State (IS).
"Kami belum memahaminya," kata Sheriff Lombardo kepada wartawan, namun mempertanyakan apakah mungkin Paddock bisa merampungkan rencananya sendiri. "Anda patut berasumsi bahwa dia butuh pertolongan pada satu titik," ujarnya.
AS telah mengumumkan hari berkabung nasional untuk mengenang dan menghormati korban dan keluarga korban penembakan. Presiden Donald Trump, yang mengunjungi Las Vegas, Rabu (4/10), mengatakan AS benar-benar berkabung setelah pembunuhan massal tersebut.
Dia mengunjungi Pusat Komando Departemen Keolisian Las Vegas dan Pusat Medis Universitas di kota tersebut, tempat dia bertemu, antara lain, Tyler Peterson, petugas yang terluka saat merespons penembakan tersebut.
Presiden memuji layanan darurat yang berjuang menyelamatkan sebanyak yang mereka bisa, meski membahayakan diri mereka sendiri. (AFP/BBC/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved