Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
INGIN merasakan sensasi kuliner, napas budaya, atau detak kehidupan malam Korea Utara (Korut)? Rasanya tidak mungkin mengingat negeri yang menganut ideologi Juche itu merupakan negara paling tertutup di dunia.
Sebagai negara paling terisolasi karena menutup diri dari dunia luar, budaya dan detak kehidupan masyarakat Korut masih asing bagi sebagian besar warga dunia. Namun, itu tidak terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Setiap malam, penduduk kosmopolitan Dubai bisa merasakan budaya Korut di Okryu-gwan, sebuah kantin satelit nasional Pyongyang yang masif.
Pada malam akhir pekan, seorang pelayan yang mengenakan gaun merah dan name tag bendera Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) membawa nampan berisi kaleng Coca-Cola ke meja pelanggan.
Sang pelayan--satu dari ribuan warga Korut yang bekerja di Teluk dengan restu dari Pyongyang--menyajikan minuman ringan Amerika Serikat (AS) itu, sedangkan sekelompok pengunjung masuk ke ruang karaoke pribadi.
Sebuah televisi layar datar disetel ke saluran televisi Korut, yang mempertontonkan adegan alam dan klip propaganda militer. Meski krisis ketegangan antara Korut dan AS semakin memanas, tidak sedikit pun kemelut tersaji di sana.
Pertunjukan terus mengalir bak jarum jam di Okryu-gwan, mikrokosmos DPRK dan satu dari tiga cabang di UEA di Distrik Deira yang ramai di Dubai.
Ketika lampu redup, dari pintu samping tiga pelayan mengambil posisi di belakang keyboard, keytar, dan sebuah gitar untuk membawakan lagu negara mereka.
Pertunjukan itu termasuk peniup seruling, tarian, dan drama komedi. Dua pelayan menggerakkan anggota tubuh mereka seperti boneka-boneka kecil, melakukan adegan bak seorang pria melamar kekasihnya.
Mereka melakukan pertunjukan pada pukul 20.00 setiap hari dalam seminggu--setiap malam sepanjang tahun.
“Kami membuat perubahan kecil setiap saat,” kata seorang pelayan, Kim Songum, sambil tersenyum antusias, ketika ditanya apakah dia merasa bosan dengan rutinitas malam hari.
“Kami yang mengatur musiknya, kami yang memilih kostumnya, kami mengerjakan semuanya,” imbuhnya.
Sementara itu, untuk liburan, para pramusaji mengatakan mereka mendapatkan jatah satu bulan dalam setahun.
“Tentu saja, kita pulang kampung (Korea Utara). Rumah dan harga lebih murah di sana, semuanya gratis,” ujar Songum, membandingkannya dengan biaya hidup di Dubai.
Berbicara dalam bahasa Inggris dengan bantuan aplikasi terjemahan, dia mengatakan para pelayan mengetahui kabar terbaru dari televisi Korut.
“Kami tidak ingin perang,” Kim mengetik dalam bahasa Korea, menarik telepon selulernya kembali untuk menambahkan, “Namun, kami tidak takut!” (AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved