Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte meminta bantuan Amerika Serikat (AS) untuk memerangi kelompok militan Islamic State (IS) di Marawi. Hal itu bertolak belakang dengan sikap Duterte sebelumnya yang menolak kehadiran militer ‘Negeri Paman Sam’ di wilayah konflik negeri itu.
“Ada banyak faktor. Namun, saat ini lebih baik bersahabat dengan mereka,” kata Duterte kepada warga di Balangiga. Perubahan sikap drastis presidien Filipina yang kini ingin bersahabat dengan AS terungkap dalam transkrip parlemen yang terbit kemarin.
Seperti diketahui, konflik antara pasukan pemerintah Filipina dan militan IS di wilayah selatan Marawi bermula pada 23 Mei lalu. Saat itu IS secara tiba-tiba mengibarkan bendera mereka di daerah tersebut.
Sejak saat itu, militan IS bertempur mati-matian melawan pasukan pemerintah di Marawi. AS pun turun tangan membantu tentara Filipina. Negara adidaya itu mengerahkan pesawat mata-mata P-3 Orion dan menerjunkan tim intelijen yang bergabung dalam militer Filipina.
Namun, perang terus berkecamuk dan telah menewaskan lebih dari 900 orang. “Saya tidak mengatakan mereka ialah pahlawan kita. Namun, mereka ialah rekan kita dan telah membantu kita. Bahkan sekarang mereka menyediakan perlengkapan penting bagi tentara kita di Marawi untuk memerangi teroris,” kata Duterte.
Dia melanjutkan tanpa bantuan AS, Filipin akan menghadapi banyak kesulitan menghadapi kelompok IS di Marawi. “Jadi, kita harus berterima kasih kepada mereka,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam enam tahun masa kepemimpinannya, Duterte kerap menunjukkan kebencian kepada AS. Presiden Filipina itu bahkan menyatakan keinginannya untuk memisahkan diri dari AS dan beralih ke Tiongkok yang merupakan rival ‘Negeri Paman Sam’.
Dalam kunjungannya ke Tiongkok pada Oktober 2016, Duterte melontarkan pernyataan bahwa Filipina tidak lagi beraliansi dengan AS. Sebagai mitra pengganti, dia menyatakan ingin membangun kembali hubungan yang harmonis dengan Tiongkok dan Rusia.
Saat menanggapi hal tersebut, Duterte pun menjelaskan penyebab keinginan berpisah dari AS saat itu. Ia mengungkapkan pernyataan itu dilontarkan karena dia marah kepada mantan Presiden AS Barack Obama.
Obama mengkritik kebijakan Duterte yang secara besar-besaran memerangi peredaran narkotika. Akibat kebijakan tersebut, lebih dari 3.850 orang tewas ditembak polisi.
Alasan lainnya ialah terkait kasus kolonialisasi berdarah pada 1990 di Filipina. Duterte mencela pemerintah AS karena kolonialisasi itu. (AFP/*/I-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved