Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Perekonomian Perkuat Posisi Abe

Haufan Hasyim Salengke
30/9/2017 10:20
Perekonomian Perkuat Posisi Abe
(Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ---AP/Kyodo News)

DATA ekonomi yang positif memberi dorongan bagi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat ia memulai kampanye pemilu. Kesehatan perekonomian negara yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu akan memainkan peran utama dalam pemilu mendatang.

Output pabrik tumbuh lebih dari yang diharapkan sementara pengeluaran rumah tangga--dipandang sebagai kunci Jepang keluar dari deflasi bertahun-tahun--naik tipis dan tingkat pengangguran berada pada level terendah selama lebih dari dua dekade.

Pertumbuhan produksi industri Jepang mencapai 2,1% pada Agustus. Hal itu merupakan bukti terbaru pemulihan ekonomi Jepang, menutup enam kuartal berturut-turut kenaikan pada periode April-Juni--raihan beruntun terpanjang dalam lebih dari satu dekade.

Prospek negara baru-baru ini juga membaik dengan investasi terkait dengan Olimpiade Tokyo 2020 yang memberi dorongan pada ekonomi.

“Secara keseluruhan, data menunjukkan ekonomi Jepang berada pada jalur yang sehat menuju pemulihan,” kata Yoshiki Shinke, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute.

Ia menambahkan angka produksi pabrik terakhir ‘dinilai sangat baik’. Ekonom UBS James Malcolm menambahkan, “Singkatnya, semuanya berjalan dengan baik.”

Abe mengejutkan Jepang pekan ini dengan menyerukan percepat­an pemilu. Hal itu dilakukan memanfaatkan oposisi yang lemah.

Pemilih di ‘Negeri Mahatari Terbit’ menyambut kebijakan keras Abe terhadap negara tetangga Korea Utara yang meluncurkan rudal di atas wilayah Jepang.

Perdana Menteri, yang membubarkan parlemen Kamis (28/9), mengklaim pemerintahannya telah ‘mengakhiri’ kemunduran ekonomi Jepang selama beberapa dekade setelah dia berkuasa pada akhir 2012 dalam sebuah kemenangan pemilihan yang mengejutkan.

Abe berkuasa dengan membawa misi mendorong ekonomi Jepang yang dulu booming dengan sebuah kebijakan yang dikenal sebagai ‘Abenomik’. Kebijakan itu merupakan kombinasi dari pengeluaran pemerintah yang besar, kebijakan moneter yang ultralonggar, dan reformasi struktural.

Hadapi Koike
Abe sekarang menghadapi tantangan dari Gubernur Tokyo yang populer, Yuriko Koike, yang baru-baru ini meluncurkan Partai Harap­an (Kibo No To).

Mencoba menarik anggota parlemen dari berbagai latar belakang ideologis dengan partainya, Koike menyebut laju reformasi yang sangat dibutuhkan di bawah pemerintahan Abe terlalu lambat.

Ia menilai rencana kenaikan pajak penjualan yang direncanakan pada Oktober 2019 akan membunuh pemulihan ekonomi Jepang yang rapuh.

Namun, data inflasi bukan kabar baik bagi Abenomik. Inflasi berada pada 0,7%, menurut kementerian dalam negeri--kenaikan untuk delapan bulan berturut dan tertinggi dalam dua tahun.

Namun, itu masih belum mencapai target 2% di Bank of Japan meski tahun ini mencatat pelonggaran moneter oleh Bank of Japan.

Juga pada Jumat (29/9), pengeluaran rumah tangga pada Agustus naik 0,6% dari tahun sebelumnya, sedikit melampaui ekspektasi pasar dari kenaikan 0,9% pada kenaikan pertama dalam dua bulan terakhir.

Pengeluaran dipandang sebagai kunci lain untuk keluar dari deflasi karena konsumen cenderung menunda melakukan pembelian di lingkungan tempat inflasi rendah atau harga mengalami penurunan.

Selain itu, tingkat pengangguran mencapai 2,8%.

Dalam upayanya menghadapi Abe, Koike membuka pintu bagi anggota Partai Demokrat yang dibubarkan untuk maju sebagai kandidat dengan partainya dalam pemilihan majelis rendah bulan depan.

Koike dan pemimpin Partai Demokrat Seiji Maehara bertemu setelah Maehara mendapat persetujuan partainya, Kamis (28/9), untuk membubarkan partai itu secara efektif.

Maehara membuka jalan bagi anggota partai untuk maju dengan Kibo no To dalam pemilihan 22 Oktober untuk menyatukan suara menentang pemerintahan Shinzo Abe.

Koike mengatakan, setelah pertemuan itu, dia telah diberi daftar anggota Partai Demokrat yang ingin mencalonkan diri lewat Kibo no To. Namun, ia mengaku ‘tidak berniat mengambil mereka semua’.

“Saya ingin mempersempit (daftar) kandidat dari berbagai sudut pandang, seperti seberapa baik mereka bisa menyesuaikan diri dengan kebijakan kami,” ujarnya. (AFP/Japan Times/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya