Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kerajaan Saudi Resmi Izinkan Perempuan Kemudikan Mobil

MICOM
27/9/2017 11:49
Kerajaan Saudi Resmi Izinkan Perempuan Kemudikan Mobil
(washingtonpost.com)

SEBUAH lompatan 'besar' dilakukan kerajaan Arab Saudi berkaitan dengan hak-hak perempuan warga negaranya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kaum hawa di Arab Saudi akan diizinkan mengemudi mobil di jalan raya.

Perubahan norma sosial yang diumumkan pada Selasa (26/9/2017) ini mulai diterapkan pada Juni 2018. Pengumuman tersebut sekaligus menandai perluasan hak perempuan secara signifikan di satu-satunya negara yang melarang kaum hawa berada di balik kemudi.

Hukum lalu lintas Saudi secara eksplisit melarang wanita mengemudi, sementara di negara Islam lainnya, perempuan dapat melaju bebas dengan kendaraan mereka.

Pangeran Khaled bin Salman, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat yang juga putra dari Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud mengatakan, mengizinkan perempuan menyetir kendaraan adalah "lompatan besar" dan "masyarakat sudah siap".

"Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang benar," kata Pangeran Khaled seraya menambahkan bahwa perempuan akan diizinkan mendapat surat izin mengemudi (SIM) tanpa harus memperoleh persetujuan dari laki-laki yang bertalian dengan mereka. Demikian seperti dikutip dari The Washington Post pada Rabu (27/9).

Kabar bahagia ini datang dalam bentuk keputusan kerajaan yang disiarkan pada Selasa (26/9) malam oleh kantor berita negara itu. "Saya sangat bersemangat. Ini adalah langkah maju yang baik bagi hak-hak perempuan," ujar Aziza Youssef, seorang profesor di King Saud University. Ia juga merupakan salah satu aktivis perempuan paling vokal di Saudi.

Kepada The Associted Press, ia menjelaskan bahwa para perempuan Arab Saudi merasa "bahagia" dengan pengumuman ini. Namun, ia juga berharap bahwa perubahan ini adalah "langkah pertama dalam banyak hal yang dinantikan kaum hawa di Saudi".

Youssef sendiri pernah ambil bagian dalam banyak kampanye mengemudi bagi kaum hawa, termasuk pada 2013, di mana mendapat publikasi secara luas. Kala itu puluhan perempuan dari seluruh penjuru Saudi menggunggah rekaman video ke situs pemutar video yang menunjukkan mereka tengah menyetir di Saudi.

Beberapa video menampilkan keluarga dan para pengemudi pria memberikan mereka acungan jempol, merujuk pada banyak orang telah siap dengan perubahan.

Sejarah Saudi mencontohkan sejumlah kasus di mana perempuan dihukum hanya karena mereka menyetir kendaraan. Pada tahun 1990, 50 perempuan ditangkap karena mengemudi dan imbasnya mereka kehilangan pekerjaan serta paspor mereka. Lebih dari 20 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2011, seorang wanita dihukum dengan 10 cambukan juga karena mereka menyetir, meski mendiang Raja Abdullah membatalkan hukuman tersebut.

Dan pada akhir 2014, dua wanita Saudi ditahan lebih dari dua bulan karena menentang larangan mengemudi. Salah satu dari mereka nekat menyeberangi perbatasan Saudi dengan berbekal SIM dari Uni Emirat Arab. Kelak, sebuah komite akan dibentuk untuk mengawasi penerapan aturan baru ini.

Perempuan Mulai Dapat 'Tempat'?

Selama tahun-tahun belakangan, Kerajaan Saudi yang terkenal ultra konservatif secara bertahap memberikan lebih banyak hak dan visibilitas terhadap perempuan, termasuk berpartisipasi dalam Olimpiade di London dan Rio de Janeiro, mendapat posisi di dewan konsultatif dan mencalonkan diri serta memberikan suara dalam pemilu lokal pada 2015.

Meski demikian, para perempuan Saudi tetap saja diharuskan tunduk pada keinginan laki-laki mengingat keberadaan undang-undang perwalian yang serta merta menjadi rintangan bagi mereka untuk mendapat paspor, bepergian ke luar negeri atau menikah dengan sosok pilihan. Semuanya harus mendapat persetujuan dari laki-laki yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka.

Dan perempuan yang mencoba melarikan diri akan dihadapkan pada ancaman hukuman penjara atau dipaksa menghuni tempat penampungan.

Sebelum pengumuman perempuan akan diizinkan mengemudi, baru-baru ini gebrakan lain telah lebih dulu dibuat. Pada akhir pekan lalu, Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk pertama kalinya dalam sejarah membiarkan perempuan memasuki stadion utama King Fahd di Riyadh untuk merayakan 87 tahun berdirinya negara itu.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang berusia 32 tahun dinilai merupakan sosok yang berperan dalam membawa banyak perubahan di negaranya. Ia mengizinkan hadirnya lebih banyak hiburan di Arab Saudi, termasuk konser musik. Upayanya ini dilaporkan sebagai jalan untuk mereformasi ekonomi dan masyarakat.

Tahun ini, pemerintah Saudi telah mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya anak perempuan di sekolah diizinkan berolahraga dan memiliki akses terhadap pendidikan jasmani.

Merespons perubahan budaya mengemudi di Saudi, Lori Boghardt yang merupakan ahli Teluk di Washington Institute for Near East Policy mengatakan bahwa pengumuman tersebut merupakan penanda bahwa Pangeran Mohammed bin Salman bertekad mengadopsi reformasi sosial yang akan mengubah wajah kerajaan.(MTVN/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya