Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Berburu Wi-Fi Gratis dan Sinyal Ponsel

Haufan Hasyim Salengke
26/9/2017 09:13
Berburu Wi-Fi Gratis dan Sinyal Ponsel
(Warga berkerumun di sebuah gedung yang menyediakan hotspot wi-fi di San Juan, Puerto Riko, Minggu (24/9)---AP/CARLOS GIUSTI)

MARGARITA Aponte dan kerabatnya membersihkan jalan di depan rumah mereka, Minggu (24/9). Mereka lalu berkendara selama satu jam dari kampung halaman yang hancur ke gedung telegraf tua di San Juan.

Di sana, ribuan warga Puerto Rico berkumpul untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan sumber daya yang hampir sama berharganya dengan listrik dan air setelah terjangan badai Maria.

Yeay, bedering, berdering, berdering!” jerit Aponte, saat telepon selulernya berbunyi ketika terhubung dengan wi-fi gratis.

Matanya sembab saat berbicara dengan keponakan, paman, dan saudara laki-laki dan perempuannya yang berada di Florida dan Massachusetts, Amerika Serikat.

Itu merupakan komunikasi pertama Aponte sejak badai Maria menghancurkan hampir semua koneksi telepon seluler dan serat optik di wilayah AS berpenduduk 3,4 juta jiwa itu.

Upaya mengontak keluarga kadang tidak selalu mulus karena hotspot wi-fi gratis kadang-kadang terinterupsi sorak-sorai seseorang yang kecewa karena jaringan yang putus. Sebagian besar warga menghabiskan berjam-jam mengerutkan dahi melihat ponsel mereka tidak dapat terhubung.

“Tidak ada komunikasi yang tersambung,” kata Yesenia Gomez, seorang pekerja ruang masak, saat dia mencoba meninggalkan pesan untuk ibunya di Dominika.

Puluhan warga Puerto Riko lainnya memilih sisi jalan di sepanjang berbagai jalan raya mencari sinyal ponsel paling kuat.

Carlos Ocasio, seorang warga, menyusuri jalan melalui dahan pohon dan botol pecah saat ia menemukan tempat dengan sinyal bagus. Segera, dia menghubungi saudaranya di New Jersey.

“Tenggorokanku sedikit tersedak dan aku tidak bisa bicara beberapa saat,” ujarnya. “Mereka memanggil saya dari berbagai arah, bertanya kapan saya akan tiba.”

Sebagian warga di Puerto Riko dan luar negeri menghubungi stasiun radio lokal untuk memberi nama, nomor, alamat, dan foto yang tepat dari orang yang mereka cintai dengan harapan bisa terhubung kembali.

Tapi, bagi ratusan ribu warga Puerto Riko yang tinggal di daratan AS, hari-hari mereka hanya dibalut keheningan.

Shirley Rodriguez, penduduk wilayah Brooklyn, New York, mengatakan dia memiliki lebih dari 30 kerabat di Puerto Riko. Dia sangat mengkhawatirkan ibunya, Mildred Rodriguez, 66, yang tinggal di Hormigueros.

Rodriguez terakhir berbicara dengan keluarganya sebelum badai Maria menerjang. Sejak itu, panggilan ke ponsel masing-masing berakhir di voicemail.

“Saya benar-benar mati rasa pada saat ini. Situasi ini sangat menyiksa,” ujarnya. (AFP/Haufan Hasyim Salengke/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya