Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
SESUAI prediksi, Kanselir Jerman Angela Merkel akan terpilih untuk kali keempat dalam pemilu di Jerman yang dilaksanakan Minggu (24/9). Perkembangan menarik perpolitikan di Jerman pasca terpilihnya Merkel dialami oleh Alternative for Germany (AfD) yang mengalami konflik internal pada Senin (25/9).
Wakil Ketua AfD, Frauke Petry menyatakan tidak akan bergabung dengan kelompok Bundestag. Dalam konferensi pers pagi tadi dia mengejutkan para tokoh penting AfD karena tiba-tiba meninggalkan ruangan.
Perbedaan pendapat ditengarai menjadi alasannya. Kekuatan radikal dan moderat pada level tertinggi saling berselisih mengenai sejauh mana rencana untuk posisi mereka.
Petry secara terbuka mengkritik Gauland yang meminta Jerman harus bangga akan para veteran. Menurutnya itu akan membuat para pemilih menghindari partai. Baca juga: Rakyat Jerman Memilih Merkel Incar Periode Keempat
Dalam konferensi pers itu, dia duduk di samping Alexander Gauland dan menyatakan ada perbedaan pendapat di AfD mengenai isu-isu strategis. "Setelah melakukan refleksi dengan hati-hati, saya memutuskan untuk tidak duduk dengan kelompok parlemen (AfD) di Bundestag," kata Petry yang memilih menjadi anggota parlemen independen.
Beberapa jam kemudian, empat anggota parlemen lokal AfD mengikuti jejak Petry tapi untuk membentuk kelompok sendiri di parlemen negara bagian Mecklenburg-Pomerania.
Pertengkaran terbuka berhasil mereda dan masing-masing pihak mengingatkan potensi keberhasilan partai tersebut dan membawa perkiraan akan masa depan partai yang penuh gejolak di parlemen.
Gauland sendiri tidak gentar dengan aksi Petry dan menganggapnya sebagai perjalanan menuju pemerintahan yang baru. Dia juga menegaskan tidak ada rencana anti-migran.
"Kami akan mengembalikan negara kami. Saya tidak ingin kehilangan Jerman karena invasi orang asing dan budaya asing," sumpahnya. Gauland menargetkan etnis Turki di Jerman yang berkewarganegaraan ganda.
AfD mendapat suara terbanyak ketiga dalam pemilihan kali ini hingga 12,6% dan membuatnya masuk ke parlemen. Meskipun awalnya AfD berakar populisme, jelang pemilihan mereka membelok lebih jauh.
Para kandidat menantang aksi Jerman pada Perang Dunia II dan pembantaian enam juta orang Yahudi dalam Holocaust. Poster-poster provokatif juga tersebar perihal anti-Islam dan anti-imigrasi.(AFP/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved