Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Warga Hindu juga Mengungsi ke Bangladesh

Irene Harty
23/9/2017 09:51
Warga Hindu juga Mengungsi ke Bangladesh
(Pengungsi Hindu asal Myanmar berada di kamp penampungan darurat di sebuah desa Hindu di Kutupalong, Bangladesh, Kamis (21/9)---AFP/DOMINIQUE FAGET)

DI antara ribuan pengungsi muslim Rohingya yang mengalir ke Bangladesh, ratusan umat Hindu Myanmar juga mengungsi ke negara Asia Selatan tersebut. Mereka ditampung di sebuah desa kecil Hindu di selatan Bangladesh berjarak kurang dari satu mil dari tempat pengungsi Rohingya.

Pada awalnya mereka melarikan diri ke Bangladesh, ke tenda-tenda pengungsian yang didominasi etnik Rohingya sekitar sebulan lalu. Namun, kedatangan mereka membuat badan bantuan dan otoritas kewalahan hingga pengungsi Hindu hanya menerima sedikit bantuan atau bahkan tidak sama sekali.

Beberapa pengungsi Hindu juga mengaku disambut dengan ketegangan komunal dan diserang di tenda Kutupalong. Tiga lelaki muda menunjukkan luka memar dan bekas luka yang dibuat oleh pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Puja Mollick, 18, yang kehilangan orangtua dan suaminya dalam kekerasan di Rakhine, mengaku dipaksa menikah saat tiba di Kutupalong. Beruntung, dia berhasil diselamatkan seorang warga.

Kini Mollick dan pengungsi Hindu lainnya mendapat keamanan dan pangan di desa tersebut. Mereka memperoleh kebutuhan dasar, tempat tinggal, makanan, dan air.

Keluarga setempat menampung sekitar 200, sedangkan 300 lainnya ditempatkan di tenda penampungan di dekatnya. Semua pengungsi Hindu tersebut menerima makanan secara rutin yang berasal dari sumbangan orang-orang Hindu setempat.

"Kami mendengar orang-orang Hindu ada di sini, di Bangladesh, berkemah di hutan. Maka kami pergi untuk menemukan mereka dan membawa mereka ke sini," ungkap pemimpin komunitas desa tersebut, Shapon Sharma.

"Kami menjangkau komunitas Hindu ... di seluruh Bangladesh untuk mengatur makanan dan tempat berlindung bagi mereka," tambahnya.

Jumlah umat Buddha dan Hindu yang terperangkap dalam kekerasan Rakhine sejak 25 Agustus lalu memang jauh lebih kecil, tetapi jumlahnya signifikan. Menariknya, cerita mereka tentang serangan kekerasan di Rakhine cukup berbeda dengan pengungsi Rohingya.

"Mereka berkulit hitam dan wajahnya ditutup," kata Niranjan Rudro, 50, seorang tukang cukur di Myanmar.

"Di desa saya ada 70 keluarga Hindu. Penyerang mengepung kami selama tiga hari dan kami tidak bisa meninggalkan rumah bahkan untuk mendapatkan makanan," lanjutnya. (AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya