Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Pengiriman Bantuan Kepada Pengungsi Rohingya Dihadang Pengunjuk Rasa

MICOM
21/9/2017 14:33
Pengiriman Bantuan Kepada Pengungsi Rohingya Dihadang Pengunjuk Rasa
(AP)

PENGIRIMAN bantuan kepada pengungsi Rohingya di wilayah Myanmar tidak mudah. Selain menghadapi pemeriksaan ketat pihak militer, ratusan warga Myanmar, Rabu (20/9) dikabarkan mencoba menutup jalan pengiriman bantuan kepada masyarakat Rohingya di negara bagian Rakhine, tempat Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh militer berusaha melakukan pembersihan suku (genosida).

Saksi mengatakan bahwa pengunjuk rasa melemparkan bom molotov sebelum akhirnya polisi membubarkan mereka dengan mengeluarkan tembakkan ke udara.

Unjuk rasa tersebut menjadi bukti peningkatan permusuhan kelompok, yang dapat mempersulit pengiriman bantuan, dan terjadi ketika Presiden AS Donald Trump menyerukan pengakhiran segera kekerasan, yang menimbulkan kekhawatiran akan peralihan pemerintahan Myanmar ke kekuasaan militer.

Pengiriman bantuan itu, yang diselenggarakan Komite Palang Merah Internasional (ICRC), dikirim ke negara bagian utara, tempat serangan gerilyawan pada 25 Agustus memicu serangan militer.

Kekerasan tersebut menyebabkan lebih dari 420.000 warga Rohingya melarikan diri ke negara tetangganya, Bangladesh, namun masih banyak yang tertinggal di Myanmar. Mereka bersembunyi karena takut terjebak dalam kekerasan lebih lanjut tanpa adanya bahan makanan dan persediaan lainnya, menurut para pekerja bantuan.

Sekitar ratusan orang mencoba menghentikan sebuah kapal yang mengangkut penuh, sekitar 50 ton persediaan bantuan di sebuah dermaga, di ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe, pada Rabu.

Di antara pengunjuk rasa, beberapa membawa tongkat dan jeruji logam, melemparkan bom molotov dan sekitar 200 polisi memaksa mereka untuk membubarkan diri dengan mengeluarkan tembakkan ke udara. Saksi mata di sana juga menyebutkan bahwa melihat sejumlah orang terluka.

Delapan orang ditahan, menurut pernyataan tertulis yang dikeluarkan kantor penerangan pemerintah setempat. Juru bicara ICRC tidak segera bersedia memberikan tanggapannya. Polisi di Sittwe juga tidak segera bersedia dimintai keterangan.

Ketegangan antara masyarakat kebanyakan yang merupakan pengikut Buddha dan warga Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine telah terjadi selama beberapa dasawarsa namun memuncak dalam sejumlah kekerasan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan.

Sejumlah kelompok pemantau dan warga Rohingya yang melarikan diri mengatakan bahwa tentara dan masyarakat Buddha Rakhine telah melakukan kampanye yang bertujuan untuk mengusir penduduk Muslim dan membakar desa mereka.

Myanmar menolak tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa pasukannya menyasar pemberontak Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA), yang mereka anggap dalang pembakaran rumah dan penyerangan terhadap warga.(Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya