Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Amnesty International mulai bekerja untuk mengungkap dugaan kuat adanya tindak pembersihan etnis Rohingya di Myanmar oleh junta militer di sana. Kisah memilukan tentang nasib etnis Rohingya pun didapat Tim Amnesty International
"Ketika militer datang, mereka mulai menembaki orang-orang yang sangat ketakutan dan mulai melarikan diri. Saya melihat militer menembak banyak orang dan membunuh dua anak laki-laki. Mereka menggunakan senjata untuk membakar rumah kami."
Begitulah sebuah kesaksian dari seorang pria berusia 48 tahun yang berhasil melarikan diri namun enggan menyebutkan namanya ketika diwawancarai oleh Tim Amnesty International, yang mengonfirmasi adanya pembakaran dengan menganalisis foto-foto yang diambil dari seberang Sungai Naf, di Bangladesh. Foto tersebut menunjukkan pilar-pilar besar asap di wilayah Rakhine, Myanmar.
"Dulu ada 900 rumah di desa kami, sekarang hanya 80 yang tersisa. Tidak ada lagi tanah untuk menguburkan para jenazah korban penyerangan," tambah saksi mata tersebut.
Saksi mata kebiadaban militer Myanmar kepada Rohingya di dalam Negara Bagian Rakhine dan para pengungsi di Bangladesh menggambarkan modus operandi yang mengerikan oleh aparat keamanan yang seharusnya melindungi warganya. Kelompok tentara, polisi dan kelompok vigilante melakukan aksi main hakim sendiri, kadang-kadang mengelilingi desa dan melakukan sebuah tembakan ke udara sebelum masuk, namun seringkali menyerang dan mulai menembaki semua arah.
Saat penduduk desa yang berhasil bertahan hidup mencoba untuk meninggalkan daerah tersebut, pasukan keamanan mulai membakar rumah dengan menggunakan bensin and roket peluncur.
Selain itu, ada pula seorang pria Rohingya yang melarikan diri dari rumahnya di Myo Thu Gyi di kota Maungdaw, pada 26 Agustus silam. Ia menuturkan, militer mulai menyerang pukul 11.00, dan mulai menembaki rumah-rumah dan orang-orang, selama satu jam.
"Setelah berhenti, saya melihat teman saya tergeletak dan meninggal di jalan," ujarnya.
Kemudian, ia melanjutkan, militer mulai menyerang kembali pada pukul 16.00. Ketika orang-orang melarikan diri, mereka membakar rumah-rumah dengan bensin dan roket peluncur. Aksi pembakaran berlangsung selama tiga hari.
"Sekarang tidak ada rumah di daerah kami, semuanya dibakar sepenuhnya."
Dengan menggunakan data kebakaran yang terdeteksi oleh satelit, Amnesty International dapat mengonfirmasi kebakaran skala besar di Myo Thu Gyi pada 28 Agustus. Yang menyedihkan, di beberapa daerah, pihak berwenang setempat tampaknya telah memperingatkan desa-desa setempat sebelumnya bahwa rumah mereka akan dibakar, sebuah indikasi yang jelas bahwa serangan tersebut disengaja dan direncanakan.
Peneliti Amnesty International Laura Haigh juga mengungkapkan temuan pihaknya bahwa militer Myanmar menggunakan ranjau untuk melukai warga Rohingya. Laura mengaku sudah berkonsultasi dengan pakar alat utama sistem persenjataan, dan sudah dipastikan, ranjau tersebut memang merupakan ranjau dan milik militer Myanmar.
"Ada lima warga Rohingya yang tercatat terkena ranjau. Satu di antaranya tewas, sementara empat di antaranya tetap hidup, namun luka berat. Satu di antara empat korban yang masih hidup itu terpaksa diamputasi satu kakinya," pungkas Laura.
Adapun, pemerintah Myanmar telah menyangkal bahwa pasukan keamanannya bertanggung jawab atas aksi pembakaran tersebut, dan mengatakan bahwa etnis Rohingya-lah yang telah membakar rumah mereka sendiri.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved