Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Makan Dedaunan demi Bertahan Hidup

14/9/2017 08:24
Makan Dedaunan demi Bertahan Hidup
(AP/MUSHFIQUL ALAM)

KISAH sedih menyelimuti beberapa anak laki-laki Rohingya.

Mereka yang terpisah dari orangtua, terpaksa secara mandiri menempuh perjalanan jauh dari Myanmar ke Bangladesh.

Di negara itu tidak ada sanak keluarga yang dituju.

Namun, demi menyelamatkan hidup, mau tak mau mereka mengikuti orang-orang dari beberapa desa lain yang sama sekali tidak mereka kenal.

Perjalanan cukup melelahkan karena melintasi hutan dan menyeberangi sungai agar bisa sampai ke Bangladesh.

"Beberapa perempuan dewasa yang ikut dalam rombongan bertanya, di mana orangtua kamu? Saya jawab, saya tidak tahu di mana kini mereka berada," kata Abdul Aziz, 10, anak yang terpisah dengan orang tuanya.

Mendengar jawaban itu, seorang perempuan lainnya merasa iba.

Dia memeluk Aziz dan berjanji akan menjaganya seperti anak sendiri.

Kisah pilu juga dialami Mohammad Ramiz, 12.

Anak laki-laki itu bernasib sama, yakni melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh dengan sekelompok orang dewasa yang tak dikenalnya.

"Saya makan daun-daun pepohonan dan minum air yang ada di hutan untuk bisa bertahan hidup," tuturnya.

Menurut data Unicef, sejak 25 Agustus, lebih dari 1.100 anak-anak Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar Barat dan tiba sendirian di Bangladesh tanpa didampingi orangtua mereka.

Badan PBB itu memperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah.

Berdasarkan sampel pada awal September, dari 128 ribu pendatang baru di lima kamp berbeda, sebanyak 60% ialah anak-anak.

Dari jumlah itu, 12 ribu di antaranya masih berusia di bawah 1 tahun.

Seperti terlihat di zona aman Kutupalong, hanya dalam dua hari, sebanyak 2.000 anak masuk ke area itu.

Petugas dari Unicef menemukan sebanyak 35 anak tiba tanpa didampingi orangtua mereka.

Juru Bicara Unicef Geneva Christophe Boulierac mengatakan, pihaknya kewalahan mengurus para pengungsi karena kekurangan staf di lapangan.

"Semakin cepat kita bertindak, semakin besar kesempatan kita untuk menemukan keluarga mereka. Tapi hal yang paling penting ialah melindungi mereka karena anak-anak itu tiba tanpa pendampingan orangtua. Itu sangat rentan dan berbahaya untuk mereka," imbuhnya.

Beberapa anak yang sampai ke zona aman menderita luka tembak.

Mereka juga menghadapi risiko pelecehan seksual, perdagangan manusia, dan trauma psikologis.

Sebagian besar anak-anak tersebut melihat anggota keluarganya terbunuh secara brutal saat terjadi kekerasan di Rakhine. (AFP/Ire/I-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya