Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

AS Mulai Tekan Myanmar Seiring Bertambahnya Gelombang Pengungsi Rohingya

MICOM
12/9/2017 19:23
AS Mulai Tekan Myanmar Seiring Bertambahnya Gelombang Pengungsi Rohingya
(AFP)

TEKANAN dunia terus membesar agar Myanmar segera mengakhiri kekerasan, yang membuat lebih dari 300.000 warga etnis muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Amerika Serikat mendesak negara Aung San Suu Kyi itu melindungi warganya, sementara ini Bangladesh meminta pembentukan daerah aman, yang memungkinkan pengungsi pulang. Pemerintahan dengan suku besar Bamar di Myanmar beralasan bahwa mereka
menggunakan kekerasan untuk memburu kelompok keras Rohingya, yang menjadi dalang penyerangan sejumlah pos polisi dan pangkalan militer pada 25 Agustus. Mereka mengaku melakukan segala cara untuk tidak menyasar warga.

Kubu pemerintah juga mengatakan bahwa 400 orang tewas akibat pertempuran di negara bagian Rakhine itu. Pejabat tertinggi lembaga HAM PBB mengecam Myanmar pada Senin (11/9) karena melakukan "operasi militer kejam" terhadap etnis Rohingya, dan menyebutnya sebagai "contoh tipikal pembersihan etnis."

Sementara itu, Amerika Serikat mengatakan bahwa eksodus etnis Rohingya menunjukkan bahwa pasukan keamanan Myanmar tidak melindungi warga sipil. Washington selama ini merupakan pendukung utama transisi demokrasi Myanmar dari pemerintahan junta militer yang kini dipimpin oleh penerima Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi.

"Kami mendesak otoritas keamanan Burma untuk menghormati aturan hukum, menghentikan kekerasan dan mengakhiri eksodus pengungsi dari kalangan warga sipil," kata Gedung Putih.

Kementerian Luar Negeri Myanmar sendiri mengaku juga prihatin atas situasi di Rakhine. Namun mereka bersikukuh pasukan militer tengah menjalankan operasi yang bertujuan menegakkan keamanan sebagai respons atas aksi ekstrimisme.

"Pemerintah Myanmar juga merasakan kekhawatiran komunitas internasional terkait pengungsi dan penderitaan masyarakat akibat eskalasi kekerasan yang diakibatkan oleh tindakan terorisme," kata kementerian luar negeri dalam pernyataan tertulis.

Pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai warga negara dan menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh, meski sebagian besar etnis tersebut sudah tinggal di Rakhine selama beberapa generasi.

Beberapa laporan dari para pengungsi dan pemantau HAM menunjukkan adanya serangan luas terhadap desa-desa Rohingya di kawasan utara Rakhine oleh pasukan keamanan dan kelompok ekstrimis Budha. Mereka dikabarkan membakar rumah-rumah di desa.

Otoritas setempat membantah laporan itu dan mengatakan bahwa 30.000 warga
Budha di desa sekitar juga terpaksa mengungsi ke selatan.

Bangladesh kini kesulitan menampung para pengungsi, yang jika ditambahkan dalam dua periode ini, kini telah mencapai 400.000 orang. Perdana Menteri Bangladesh, Shikh Hassina, mengatakan bahwa Myanmar harus membentuk zona aman yang memungkinkan para pengungsi pulang ke rumah.

"Myanmar harus memulangkan semua pengungsi Rohingya. Mereka menciptakan masalah, mereka pula yang harus menyelesaikannya," kata dia.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya