Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
TOPIK ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang menjadi pokok bahasan di KTT OKI, 10-11 September, menegaskan Islam menghormati pemikiran, nalar, dan sains untuk membebaskan manusia dari perbudakan, ilusi, mitos, menyerukan sikap moderat, serta memerangi radikalisme.
Hal ini dikemukakan Sekjen OKI, Yousef A Al-Othaimeen, di Astana, Kazakhstan, kemarin.
“Ini KTT pertama yang mempromosikan kemajuan iptek sebagai pendorong pengembangan sosioekonomi di negara-negara anggota OKI. Kami telah melakukan konsultasi dengan 157 ilmuwan dari 20 negara OKI. Kami ingin membantu anggota untuk memperbaiki standar pendidikan, menciptakan kesempatan kerja bagi kaum muda, mengurangi dampak buruk perubahan iklim, dan aksi nyata memperbaiki sumber daya manusia, energi, dan air,” kata Al-Othaimeen.
Lebih jauh, Al-Othaimeen menyoroti bahwa dokumen tersebut mencantumkan beberapa program sains besar yang dapat dikerjakan bersama. Ia menyebut proyek-proyek itu akan menjadi penentu untuk membangun ekonomi dan industrialisasi di negara-negara anggota OKI.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengemukakan selama ini KTT OKI sudah terlalu banyak menggelar pertemuan seremonial.
“Kini saatnya kita mengimplementasikan agar negara-negara Islam tidak ketinggalan dari negara lain,” ungkap Kalla.
Menurut Wapres, sebenarnya penerapan iptek di negara-negara Islam sudah maju seperti di Kazakhstan, Turki, Iran, dan Pakistan. Oleh karena itu, sebagai negara yang tergabung dalam OKI, Indonesia harus bisa mengimplementasikannya.
Indonesia akan menawarkan beberapa teknologi unggulan, yaitu terkait produksi pangan dan pengelolaan air. (oic-oci.org/Ant/Hym/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved