Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
Kelompok bersenjata Myanmar, polisi, dan warga Buddha di Rakhine telah melakukan operasi terhadap desa-desa Rohingya sejak serangan 25 Agustus 2017. Pembantaian yang diprakarsai militer Myanmar tersebut dibalas oleh militan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) terhadap sekitar 30 pos polisi dan satu pangkalan militer.
HRW menyebut tindakan aparat keamanan selama operasi militer di Rakhine mengarah ke ‘pembersihan etnis’. "Pengungsi Rohingya yang melarikan diri mencatat peristiwa mengerikan dalam serangan tentara Burma (Myanmar) dan menyaksikan desa-desa mereka dihancurkan," kata Meenakshi Ganguly, Direktur HRW Asia Selatan dalam keterangan kepada Media Indonesia.
"Operasi yang sah terhadap kelompok bersenjata sepatutnya tidak sampai membakar penduduk lokal perempuan dan anak-anak dari rumah mereka," ujarnya.
HRW mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan pertemuan darurat dan memeringatkan pihak berwenang Myanmar bahwa mereka akan menghadapi sanksi berat kecuali jika mereka menghentikan tindakan brutal terhadap penduduk Rohingya.
PBB, kemarin, mengatakan sekitar 270.000 pengungsi telah meninggalkan Rakhine, Myanmar, dan memasuki Bangladesh dalam dua pekan terakhir, sebagian besar komunitas orang Rohingya,. "Diperkirakan 270.000 pengungsi tiba di Bangladesh dalam dua pekan terakhir," kata Vivian Tan, juru bicara Badan Pengungsi PBB (UNHCR).
"Mereka mendirikan tempat penampungan di jalan atau tempat-tempat kosong yang bisa mereka temukan," ujarnya. lagi. Kondisi ini sangat mengenaskan.
Rohingya telah lama mengalami diskriminasi oleh rezim Myanmar yang menolak memberikan mereka hak kewarganegaraan padahal meski komunitas muslim tersebut telah tinggal di negara mayoritas Buddha itu dari generasi ke generasi.
Kamp pengungsi yang ada di dekat perbatasan Bangladesh dengan Myanmar telah menampung sekitar 300.000 warga Rohingya sebelum terjadinya kekerasan terbaru Agustus lalu dan sekarang benar-benar kewalahan.
Wilayah perbatasan dua negara telah didatangi puluhan ribu pendatang baru pengungsi Rohingya tanpa tempat berlindung dari musim hujan. Gelombang pengungsi baru tiba di Bangladesh membawa serta kesaksian mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan, dan aksi pembakaran yang meluas oleh tentara Myanmar.
Sebagian besar pengungsi Rohingya menempuh pejalanan berhari-hari dengan jalan kaki dan PBB mengatakan banyak orang yang sakit, kelelahan, dan sangat membutuhkan tempat tinggal, makanan, dan air.
Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang telah bertolak ke Kazakhstan untuk menghadiri pertemuan KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 10-11 September, mengatakan siap membawa isu Rohingya pertemuan tersebut dan Sidang Umum PBB pada 12-25 September 2017.
Upaya di OKI dan PBB bagian dari aksi dan diplomasi yang telah dilakukan pemerintah Indonesia sebelumnya, termasuk diutusnya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke Myanmar dan Bangladesh untuk bertemu pihak berwenang di dua negara itu. (AFP/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved