Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Saat Suriah Jadi Tempat Berlindung para Pengungsi

07/9/2017 11:38
Saat Suriah Jadi Tempat Berlindung para Pengungsi
(AFP/OMAR HAJ KADOUR)

KRISIS kekerasan dan peperangan kadang menimbulkan situasi paradoks. Ketika jutaan orang lari meninggalkan kampung halaman mereka di Suriah untuk menyelamatkan diri, negara yang sedang diamuk perang itu justru menjadi tempat berlindung ribuan orang lainnya.

Badan pengungsi PBB atau UNHCR, misalnya, memperkirakan sekitar 55 ribu pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang di Timur Tengah dan sekitarnya saat ini tinggal di Suriah. Padahal, Suriah sendiri telah dilanda konflik berdarah sejak Maret 2011.

Kelompok pengungsi terbesar, sekitar 31 ribu orang, ialah warga Irak yang pindah ke Suriah untuk melarikan diri dari kekerasan bertahun-tahun di negara mereka. PBB juga mencatat sekitar 1.500 pengungsi Afghanistan dan 1.500 lainnya dari Sudan, Sudan Selatan, dan Somalia.

Di antara mereka adalah Zahraa Abdi, yang melarikan diri dari Somalia pada 2012 dan sekarang tinggal di sebuah ruangan kecil bersama ketiga anaknya di utara Damaskus.

“Di Suriah, kondisinya tidak terlalu gawat. Namun, di Somalia, serangan terjadi secara acak, kapan saja atau mana pun,” ujar perempuan itu.

Zahraa, 47, memilih datang ke Suriah karena dia dapat masuk tanpa visa dan dia sangat ingin memberikan keamanan untuk keluarganya.

Dia terpaksa melarikan diri dari rumahnya di pinggiran ibu kota Somalia, Mogadishu, setelah seorang putrinya menjadi korban pembunuhan.

“Di Suriah memang ada pengeboman, tapi ada juga daerah yang masih aman. Di Somalia, orang-orang bersenjata tiap saat bisa saja masuk rumah dan membunuh kita,” kata Zahraa.

Somalia memang telah dilanda kekerasan selama hampir 25 tahun terakhir. Gelombang orang Somalia yang melarikan diri ke luar negeri untuk mencari keselamatan juga terus berlangsung.

Sementara Zahraa pindah ke Suriah pada awal konflik, sebagian besar pengungsi lainnya mencari keamanan di Suriah jauh sebelum perang menghancurkan negara itu.

Di sebuah gereja sederhana di pinggiran Kota Damaskus, misalnya, Faten yang berusia 45 tahun tengah menyanyikan nyanyian rohani dalam bahasa Arab dan Inggris.

Sebagai seorang penganut Kristen Chaldean dari Irak, Faten dan keluarganya melarikan diri ke Suriah pada 2007 setelah menerima ancaman pembunuhan terkait dengan pekerjaan kakaknya di kafetaria yang menjajakan makanan untuk pasukan AS.

Dinding rumah mereka lalu dicoreti tulisan yang menuduh mereka melakukan ‘pengkhianatan’. Suatu waktu rumah mereka disasar tembakan. “Ketika mereka membakar rumah, kami tahu itu saatnya harus pergi,” kenangnya. (AFP/Haufan Hasyim Salengke/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya