Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKRETARIS Jenderal PBB Antonio Guterres, Selasa (5/9) waktu setempat, memperingatkan kekuatan dunia agar tidak menggunakan ‘retorika konfrontatif’ dalam menghadapi Korea Utara (Korut).
Suksesor Ban Ki-moon itu menekankan kekuatan besar harus menghasilkan satu strategi untuk mengatasi krisis rudal dan senjata nuklir Pyongyang.
Guterres tampaknya sedang menyindir kepemimpinan rezim Korut Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang terlibat baku retorika permusuhan.
Trump telah memperingatkan Pyongyang akan menghadapi ‘api dan kemarahan’ jika terus mengancam AS. Sebaliknya, Korut mengingatkan Washington untuk tidak bertindak ceroboh jika tidak ingin dirudal.
“Retorika konfrontasional dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Solusinya harus bersifat politis,” kata Guterres kepada wartawan. “Konsekuensi potensial dari tindakan militer terlalu mengerikan,”
DK PBB terpecah
Pemimpin PBB itu meminta Dewan Keamanan untuk mengedepankan persatuan dan menyetujui langkah-langkah maju. Seruan itu disampaikan menyusul pertikaian tajam antara AS dan dua sekutu Korut, Rusia dan Tiongkok, dalam merespons uji coba nuklir keenam dan paling kuat Pyongyang yang digelar pada bulan lalu.
Washington dan Inggris mendorong sanksi PBB yang lebih ketat dan keras. Namun, Moskow dan Beijing menolak dengan tegas. Dua sekutu utama Korut itu menekankan pada solusi dialog dalam mendenuklirisasi Semenanjung Korea.
Rusia menyatakan sanksi itu tidak akan menyelesaikan krisis. Moskow mendukung proposal Tiongkok untuk pembekuan uji coba nuklir dan rudal Pyongyang dengan imbalan penghentian latihan militer AS-Korea Selatan.
Namun, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, Senin (4/9), menolak usul yang ia sebut ‘melecehkan’ tersebut.
Bahkan, Haley memperingatkan bahwa Washington tidak akan mengubah sikap militer itu ketika Pyongyang terus maju dengan program rudal dan nuklir mereka.
Dalam menengahi ‘pertikaian’ tiga kekuatan utama Dewan Keamanan itu, Guterres mengatakan dirinya tidak akan condong pada proposal satu pihak di atas proposal pihak lain. Ia menekankan respons yang bersatu ialah satu-satunya cara untuk mendorong solusi diplomatik.
“Persatuan Dewan Keamanan sangat penting,” Guterres menegaskan.
Sementara itu, sehari setelah memprediksi ‘bencana global’ jika uji coba nuklir Korut ditanggapi dengan opsi selain perundingan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan krisis Semenanjung Korea mungkin ‘tidak bisa’ diselesaikan.
Putin menyampaikan hal itu setelah bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di sela-sela Forum Ekonomi Eropa Timur di Vladivostok, Rusia.
Putin mengulangi pernyataannya bahwa sanksi tidak akan cukup untuk mengendalikan Pyongyang. Ia memperingatkan agar tidak ‘emosional’ dalam menangani masalah tersebut atau membuat rezim itu tersudut.
“Kita harus mengedepankan kepala dingin dan menghindari langkah-langkah yang malah meningkatkan ketegangan,” Putin menandaskan. “Tanpa langkah politik dan diplomatik, situasi ini akan sangat sulit dipecahkan dan saya rasa tidak mungkin dilakukan.” (AFP/AP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved