Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Hadapi Ancaman Korut, AS Restui Korsel Kembangkan Kapasitas Rudal Balistik

MICOM
02/9/2017 15:15
Hadapi Ancaman Korut, AS Restui Korsel Kembangkan Kapasitas Rudal Balistik
(AP/South Korea Defense Ministry)

KRISIS di Semanjung Korea diperkirakan bakal lebih memanas. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in sepakat mengubah perjanjian membatasi pengembangan peluru kendali balistik Korsel di tengah kebuntuan dalam menghadapi Korea Utara.

Kantor Kepresidenan Korsel, Sabtu (2/9) melaporkan Presiden Trump juga memberikan persetujuan konseptualnya terkait rencana Korsel membeli peralatan militer bernilai miliaran dolar AS dari Amerika Serikat.

Hal itu dilakukan karena Korea Selatan ingin menaikkan bobot hulu ledak peluru kendalinya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan terhadap Korea Utara, yang mengembangkan peluru kendali dan senjata nuklirnya.

"Kedua pemimpin setuju mengubah panduan pengembangan peluru kendali ke tingkat yang diminta Korea Selatan. Mereka berbagi pandangan dan menilai perlu memperkuat kemampuan pertahanan Selatan dalam menanggapi hasutan dan ancaman Korea Utara," kata kantor kepresidenan Korea Selatan.

Korut dan Korsel saat ini secara teknis kedudukannnya masih dalam perang, karena kemelut perang saudara (1950-1953) yang diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Korea Utara berulang kali mengancam akan menghancurkan Korsel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Tidak itu saja, pada pekan ini Korea Utara berulah meningkatkan ketegangan Semenanjung Korea dengan meluncurkan peluru kendali balistik jarak jauhnya, Hwasong-12, yang mampu melintasi wilayah Jepang dan mendarat di Lautan Pasifik.

Korea Utara sedang berupaya mengembangkan peluru kendali berhulu ludak nuklir yang mampu menghantam wilayah Amerika Serikat dan baru-baru ini mereka mengancam akan menembakkan peluru kendali ke Guam, wilayah Pasifik AS.

Adapun, upaya pengembangan peluru kendali balistik Korea Selatan terbatas pada jangkauan maksimum kisaran 800 kilometer dan bermuatan sebesar 500 kilogram, di bawah perjanjian bilateral yang diubah pada 2012. Korea Selatan mengatakan pihaknya ingin mengubah kesepakatan tersebut dengan menambah bobot hulu ledak maksimumnya.

Kedua pemimpin itu berjanji terus menerapkan tekanan kuat diplomatik dan ekonomi terhadap Korea Utara dan melakukan seluruh upaya persiapan guna mempertahankan diri dari ancaman Korut, yang terus meningkat, kata Gedung Putih.(Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya