Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Warga Terkepung Banjir dan Longsor

18/8/2017 06:44
Warga Terkepung Banjir dan Longsor
(AFP)

DUA remaja Bangladesh meninggal saat berswafoto di tengah amukan banjir bandang.

Menurut kepolisian, korban ialah anak laki-laki berusia 15 tahun. Mereka terseret banjir di sebuah jalan yang telah penuh luapan air di utara Kota Melandah pada Rabu (16/8).

Kepala polisi setempat, Mazharul Karim, mengatakan jenazah mereka ditemukan para penyelam setelah melakukan pencarian sepanjang hari.

“Saat sekolah diliburkan karena banjir, mereka mungkin berpikir merupakan sebuah ide yang bagus berswafoto di jalan kota yang tergenang banjir,” kata Mohan Talukder, Kepala Sekolah Umir Uddin.

Nahas, arus besar menyapu mereka berdua. Beberapa penduduk desa mencoba menyelamatkan mereka, tapi usaha itu gagal.

Secara menyeluruh, banjir dan hujan monsun di negara itu telah menewaskan 56 orang. Selain korban tewas, 5 juta warga lainnya terkena dampak bencana itu.

Di musim penghujan, biasanya hampir setengah negara Bangladesh terkena dampak banjir. Untuk mengantisipasi banjir kali ini, pemerintah melalui badan cuaca telah memperingatkan kemungkinan terjadinya hal terburuk.

“Amukan banjir di wilayah tengah Bangladesh bisa semakin memburuk dalam beberapa hari ke depan,” kata Sazzad Hossain, Kepala Pusat Peramalan dan Peringatan Banjir.

Petugas bantuan bencana Mohammad Zameer Ahmad mengatakan di Negara Bagian Uttar Pradesh, keadaan akan semakin berbahaya karena tiga sungai di Nepal meluap. Sungai-sungai di negara tersebut merupakan hulu dan bermuara di Bangladesh.

Luapan sungai di Nepal akan berdampak kepada 300 desa. Dalam waktu singkat, desa-desa itu akan terisolasi dan ribuan orang terpaksa pindah ke tempat yang lebih tinggi.

Di tiga negara yang bertetangga, bencana tanah longsor telah menewaskan lebih dari 250 orang. Musibah itu juga telah memaksa jutaan orang mengungsi sejak musim hujan pada Juni 2017.

Sebagaimana diketahui, selama musim hujan berlangsung, tanah longsor dan banjir kerap terjadi di wilayah Asia Selatan. Bencana itu setiap tahun terjadi sepanjang Juni hingga September.

Kebanyakan warga meninggal karena tenggelam dan terperangkap di rumah yang roboh atau di bawah pohon.

Sejauh ini, pemerintah telah membuka sekitar 1.500 tempat penampungan. Fasilitas itu dilengkapi dengan persediaan makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Seperti pada Kamis (17/8), untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, helikopter-helikopter milik angkatan udara menurunkan paket makanan di desa-desa yang terkena banjir di Negara Bagian Bihar Timur.

Di sana, sebanyak 78 orang telah tewas sejak Juni. Sebanyak 500 orang dikerahkan untuk membantu korban. (AFP/AP/Arv/I-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya