Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
TRUK-truk berbagai ukuran mengantre di ‘Jembatan Persahabatan Sino-Korea’ untuk membawa barang dari Korea Utara (Korut) ke Tiongkok. Nafas ekonomi di perbatasan tetap hidup meski Beijing menghadapi tekanan besar agar menekan sekutu komunisnya secara ekonomi.
Sekitar dua lusin truk menunggu izin untuk memasuki kota perbatasan Dandong, tempat 70% kegiatan perdagangan Korea Utara melintas. Pemandangan itu terpantau sehari setelah Pyongyang berhasil menguji rudal balistik antarbenua pada Selasa (4/7).
Sementara sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak melarang semua perdagangan dengan Korut, Amerika Serikat mendamprat Tiongkok yang dinilai tidak berbuat banyak untuk memotong sumber lebih banyak uang tunai yang membuat Pyongyang tetap bertahan.
Pemerintah AS sekarang memimpin sebuah upaya baru di PBB untuk menjatuhkan sanksi lebih keras kepada Pyongyang. Upaya ini datang setelah Presiden Donald Trump mengeluh bahwa perdagangan Tiongkok-Korut telah melonjak hingga 40% di kuartal pertama.
Pelaku perdagangan di Dandong mengakui bahwa bisnis berjalan seperti biasa di perbatasan. Sejumlah supir taksi mengatakan mereka belum melihat penurunan jumlah pedagang Korut yang mengunjungi kota tersebut dalam beberapa hari ini.
Emas merupakan salah satu bahan baku dari Korut yang dilarang di bawah sanksi PBB.
Namun manajer sebuah toko yang menjual ‘produk khusus Korut’ di jalan setapak Sungai Yalu mengatakan bahwa karyawannya tidak mengalami kesulitan melintasi perbatasan untuk membeli emas dan perak dalam beberapa bulan terakhir.
Si manajer, yang menolak mengungkap identitasnya, mengatakan bahwa bahan baku yang ia peroleh dikirim ke pabrik di kota selatan Guangzhou, tempat bahan tersebut disulap menjadi cincin dan gelang.
"Lebih murah untuk membeli dari Korea Utara, jadi harga yang kami tawarkan kepada pembeli lebih murah daripada yang biasa mereka temukan di China," kata dia.
"Kami beroperasi seperti biasa. Kami telah bekerja sama dengan pemasok Korea Utara selama bertahun-tahun," akunya.
Seorang pegawai di toko lain di jalan itu, yang menggunakan model bisnis perhiasan emas yang serupa, mengatakan dia tidak merasakan adanya gangguan pada usahanya.
"Sebagian besar produk kami benar-benar dibuat di China, tapi barang-barang seperti pakaian tradisional ini dibuat oleh pekerja Korut yang telah datang ke Dandong untuk bekerja di pabrik tekstil," kata si pekerja, yang bermarga Yan.
Operator transportasi sungai Heng Ge, yang membawa wisatawan dekat dengan orang Korut ke pantai, mengatakan meski iklim politik genting, keingintahuan warga Tiongkok tentang tetangga mereka tidak pudar. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved