Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Pusat Studi Gempa Nasional, Daryono, mengungkapkan bahwa gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di wilayah Laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik yang sangat kompleks. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu zona paling unik di dunia karena berada dalam sistem konvergensi ganda (double subduction system).
Menurut dia, Laut Maluku diapit oleh dua busur subduksi aktif, yakni Lempeng Laut Maluku yang menunjam ke arah barat di bawah Busur Sangihe serta ke arah timur di bawah Busur Halmahera. "Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi," ujarnya, Jumat (3/4).
Dalam kajian mekanika batuan dan tektonik lempeng, Daryono menjelaskan bahwa sesar naik terjadi akibat gaya kompresi horizontal yang mendorong satu blok batuan naik relatif terhadap blok lain.
Di Laut Maluku, sumber gempa jenis ini umumnya berkaitan dengan bidang kontak antarlempeng (megathrust) maupun deformasi internal pada lempeng yang tersubduksi.
Fenomena tersebut, lanjutnya, menjelaskan latar belakang gempa di wilayah ini kerap memiliki kedalaman menengah hingga dalam, tetapi tetap menunjukkan mekanisme sesar naik.
Secara geofisika, hal ini diperkuat oleh hasil analisis moment tensor yang menunjukkan dominasi komponen kompresional dengan sumbu tekanan (P-axis) hampir horizontal serta bidang nodal yang mencerminkan geometri penunjaman lempeng.
Lebih jauh, interaksi kompleks antara dua sistem subduksi yang saling berhadapan atau arc-arc collision memperkuat deformasi di kawasan tersebut. Dampaknya, frekuensi gempa dengan mekanisme sesar naik menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Dari perspektif kebencanaan, Daryono menekankan bahwa gempa thrust di Laut Maluku memiliki tingkat risiko yang signifikan. Pasalnya, gempa jenis ini berpotensi menyebabkan deformasi vertikal pada dasar laut yang dapat memicu tsunami, terutama jika terjadi pada kedalaman dangkal dan melibatkan pergeseran besar di bidang patahan.
"Oleh karena itu, pemahaman komprehensif terhadap mekanisme ini menjadi krusial dalam upaya mitigasi risiko bencana di kawasan Indonesia timur," pungkasnya. (I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved