PRESTASI Djoko di dunia akademik bisa dibilang sangat bagus. "Saat itu nilai saya cum laude, tetapi saya sendiri tidak tahu artinya," kenang dia tertawa.
Setelah lulus sarjana muda pada 1965, Djoko pun sudah menjadi asisten dosen dan dua tahun kemudian, pada 1967, ia diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Ilmu Budaya (dulu bernama Fakultas Sastra dan Kebudayaan) UGM. Pada 1980-1981, dia melanjutkan studi di Rijk Universiteit di Leiden, Belanda, dan mengikuti kuliah kerja di School of Oriental and Asian Studies di London (1981).
Djoko juga menjadi salah satu mahasiswa yang pernah dibimbing Prof A Teeuw saat menulis disertasi. Ia bercerita, saat itu, sebenarnya ia lebih tertarik pada dunia puisi. Namun, karena pandangan dia dengan Prof A Teeuw berbeda tentang puisi, Djoko pun disarankan agar tidak menulis puisi. "Akhirnya saya menulis Kritik Sastra Indonesia Abad 20," kata dia.
Djoko menyandang status guru besar madya pada 1993 dan guru besar penuh pada 2003. Sejak 2004, ia pensiun, tetapi masih menjadi pembimbing mahasiswa S-3 sebagai profesor emeritus.
Setelah pensiun, dia pun mulai menyerahkan mata kuliah yang diampu kepada dosen-dosen yang lebih muda dan kini hanya menjadi dosen pembimbing mahasiswa S-3. "Paling tidak sudah 25 doktor yang saya luluskan sampai 2000," pungkas dia.
Seusai pensiun, ia pun kemudian berinisiatif mendirikan Yayasan Sastra Yogyakarta pada 2011, yang memberi penghargaan terhadap sastrawan di Yogyakarta.
Penyelenggaraan penghargaan Sastra Yasayo bertujuan mendorong dan meningkatkan apresiasi terhadap sastra Indonesia dan sastra Jawa yang ditulis orang Yogyakarta. Apresiasi yang tinggi terhadap kesusastraan diharapkan juga sebagai penanda tingginya peradaban masyarakat tersebut.
Djoko menyampaikan penghargaan Yasayo meniru yang dilakukan Ajib Rosidi yang mendirikan Yayasan Rancage dan memberi penghargaan untuk sastra daerah. "Karena saran istri kemudian penghargaan juga diberikan kepada sastra Indonesia," kata dia.
Penghargaan Yasayo diambil dari royalti buku yang diterima Djoko Pradopo dari Gama Press. "Yasayo diadakan pada Januari dan Juli, saat saya menerima royalti. Ya saya kira royalti itu cukup sebagai hadiah," kata dia.
Djoko berharap ada pihak lain yang berkenan turut memberi tambahan hadiah dalam penghargaan Yasayo. Anugerah sastra itu pun diharapkan bisa menjadi agenda budaya di Yogyakarta.(AT/M-6)