HASIL penelitian Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) 2015 menyebutkan 30% sekolah dasar hingga menengah di Indonesia sudah terpengaruh nilai-nilai radikalisme. Apabila tak segera diatasi, dikhawatirkan, dampaknya bisa meluas.
"Kecenderungan sikap yang ekstrem itu kurang ditemukan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, tapi ditemukan di lembaga pendidikan umum, baik swasta maupun negeri," ujar Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin pada kopi darat bertema Pendidikan agama Islam berbasis nilai-nilai budaya damai di Jakarta, kemarin (Rabu, 4/11/2015).
Ia mengatakan kurang ditemukannya ekstremisme pada lembaga pendidikan Islam disebabkan lembaga pendidikan Islam lebih menanamkan prinsip keberagaman Islam yang moderat.
"Adapun jalur utama masuknya radikalisme pada sekolah umum, swasta, dan negeri ialah lewat organisasi masyarakat radikal yang jumlah dan aktivitasnya kian meningkat."
Karena itu, Kemenag terus mendorong pembangunan karakter untuk menghambat penyebaran ideologi-ideologi yang mengarah pada radikalisme.
Di tengah keterbatasan sumber daya, Kemenag yang dimandatkan mengelola pendidikan Islam salah satunya meningkatkan kompetensi pengajaran guru agama Islam di sekolah.
"Setiap tahun kami berikan pelatihan guru ke luar negeri. Setelah kembali ke Indonesia, mereka bisa merumuskan dalam modul yang akan disebar ke sekolah-sekolah," ungkapnya.
Sedikitnya sudah 35 guru yang dikirim mengikuti pelatihan ke berbagai negara. Tahun ini di antaranya dikirim dalam program training of trainers bidang metodologi pembelajaran di University of Oxford, Inggris.
"Secara konkret, guru-guru diberi pelatihan tentang pemahaman Islam moderat yang nantinya bisa disampaikan kepada siswa di sekolah dengan cara tepat, sehingga pendidikan Islam bisa jadi pemersatu bangsa dengan agama majemuk," pungkas Amin.
Ekstrakurikuler Direktur Pendidikan Islam Kemenag Amin Haedari menambahkan pelatihan bertaraf internasional bagi guru pendidikan agama Islam itu penting untuk memperluas pemahaman mereka kepada siswa.
Selain pengajaran di kelas, guru juga bisa mendalami materi melalui pembinaan organisasi ekstrakurikuler seperti rohis.
"Tahun lalu kami adakan pertemuan rohis se-Indonesia di Cibubur. Sekitar 3.000 siswa ikut perkemahan dan itu efektif mencegah tumbuhnya benih-benih radikalisme," paparnya.
Senada dengan itu, guru SMKN 4 Tangerang Maman Suryaman pun menekankan pentingnya keterlibatan guru dalam kegiatan ekstrakurikuler siswa. Itu bisa diterapkan oleh guru yang sudah mendapatkan pelatihan.
"Dalam konteks Indonesia yang cukup maju, pendidikan Islam berbasiskan nilai-nilai budaya damai ini berdampak signifikan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, sikap toleransi ditanamkan sejak dini," ujarnya.(H-2)