Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Animo Meningkat, UT-LLN Capai Target Peserta Mahasiswa Baru 100 Persen

Syarief Oebaidillah
03/3/2026 21:29
Animo Meningkat, UT-LLN Capai Target Peserta Mahasiswa Baru 100 Persen
Direktur UT-LLN Dr. Pardamean Daulay(Dok Istimewa)

Universitas Terbuka Layanan Luar Negeri (UT-LLN) merupakan salah satu unit yang berada di Universitas Terbuka (UT) yang bertugas memfasilitasi layanan pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri juga Warga Negara Asing (WNA) yang membutuhkan layanan pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualifikasi dan kapasitas diri. UT-LLN sebelumnya disebut Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Layanan Luar Negeri (UPBJJ-UT LLN) didirikan sejak Januari 2014 dan diresmikan pada 2 Juni 2014 oleh Rektor UT, Prof. Ir. Tian Belawati, sebagai UPBJJ-UT yang ke-39.

"Mengingat karakteristiknya yang khas, UPBJJ-UT LLN diubah menjadi Pusat Pengelolaan Mahasiswa Luar Negeri atau PPMLN yang berada di bawah koordinasi Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan UT. Seiring dengan transformasi UT dari BLU menjadi PTNBH pada tahun 2023, PPMLN berubah menjadi UT Layanan Luar Negeri atau UT-LLN," papar Direktur UT-LLN Dr. Pardamean Daulay di kampus UT Pondok Cabe, Tangerang Selatan (Tangsel), kemarin.

Diutarakannya, secara operasional UT-LLN bertugas membantu layanan mahasiswa UT di luar negeri sesuai dengan Surat Tugas yang diberikan oleh Wakil Rektor bidang Sistem Informasi dan Kemahasiswaan, mulai dari perencanaan, sosialisasi dan promosi, registrasi, kegiatan layanan pembelajaran, serta pelaksanaan ujian. Dalam memberikan layanan kepada mahasiswa UT di luar negeri, UT-LLN dibantu UT Daerah terdekat yakni UT Medan, Batam, Pontianak, dan Tarakan.

Menurut Pardamean, visi misi tujuan UT-LLN adalah menjadi UT-LLN yang berkualitas dalam bidang PTJJ guna mewujudkan UT sebagai salah satu institusi PTTJJ berkualitas dunia, serta memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat di wilayah UT-LLN pada jenjang pendidikan tinggi yang berkualitas. Hal yang menggembirakan bagi UT-LLN, lanjut dia, animo peserta terus meningkat. Pihaknya diminta target dari Rektor UT guna menggenjot peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK). "Alhamdulillah untuk semester 2026 ini, kami UT-LLN mencapai target 100 persen lebih. Tahun lalu peserta 7 ribuan, sekarang 8 ribuan," ungkapnya.

Hemat dia, meningkatnya animo peserta kegiatan perkuliahan UT di luar negeri mendapat dukungan dari semua kantor perwakilan RI di luar negeri (KBRI, KJRI, KDEI), mulai dari perekrutan mahasiswa baru, ujian akhir semester, hingga penyelenggaraan wisuda. Para mahasiswa dapat membuktikan kepada keluarganya bahwa walaupun sibuk bekerja, anaknya tetap bisa mandiri dan berusaha keras untuk mengejar kesuksesan melalui pendidikan. "UT satu-satunya perguruan tinggi negeri yang tidak mengenal batas umur juga batas waktu kuliah. Juga menjadi pilihan pekerja guna meningkatkan kompetensi dirinya supaya bisa bersaing di dunia kerja bila lulus nanti," cetusnya.

Kuliah di UT banyak kelebihannya, di antaranya bisa kuliah mandiri selama bekerja di perantauan. Semua aktivitas perkuliahan dilakukan secara daring atau online sehingga memudahkan para pekerja migran Indonesia (PMI) untuk bekerja sambil kuliah. "Saat pulang ke Indonesia, bisa membawa tabungan dan gelar sarjana, serta menjadi bekal untuk memenuhi persyaratan kerja seperti menjadi CPNS, berwirausaha, bahkan ada yang menjadi lurah," tukasnya.

Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang sibuk bekerja di luar negeri seperti ekspatriat, pebisnis, pekerja kantoran, ibu rumah tangga, pekerja di sektor konstruksi, pabrik, pelayan restoran, perkebunan, dan pekerja rumah tangga yang masih ingin lanjut pendidikan ke perguruan tinggi, tidak perlu menjadi penghalang karena mereka bisa memilih Universitas Terbuka (UT) sebagai solusi pendidikan selama di perantauan.

Jepang Tertinggi

Seperti dijelaskan dalam perkembangannya, para pekerja Indonesia di luar negeri terus berupaya meningkatkan kompetensinya. Pardamean mencontohkan negara Jepang menunjukkan tingginya animo tersebut mencapai 3.000 mahasiswa menjadi tertinggi di UT-LLN dari 55 negara, disusul Korea dan Taiwan. Menurutnya, ini terjadi karena para pekerja sadar bahwa bekerja di Jepang tidak akan selamanya; manakala kontrak habis akan pulang ke Indonesia. Mereka berpikir mempersiapkan diri setibanya di tanah air. "Pulang ke Indonesia saya harus punya gelar, kompetensi itu yang membuat mereka bekerja sambil kuliah. Harapan mereka pulang bukan saja membawa uang juga membawa ijazah. Sesampainya di Indonesia bisa dipergunakan mendaftar CPNS atau ke perusahaan terkait atau membuka usaha sendiri," ungkapnya.

Namun begitu, ia mengungkap awalnya masih banyak pekerja takut mendaftar ke UT-LLN karena khawatir tidak diizinkan majikan atau perusahaan mereka bekerja. Terkait itulah pihaknya berupaya menjalin kerjasama dengan kementerian terkait. "Kita sekarang sudah bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja atau Kemenaker RI. Karena di Jepang ada perbedaan bahwa yang mengurus pekerja migran itu, mereka menyebut pekerja magang di bawah Kemenaker RI," tukasnya.

Pihaknya telah MoU dengan Kemenaker RI dengan penerapan peraturan di antaranya memberi akses kepada para pekerja magang agar bisa kuliah di UT. Melalui MoU tersebut, pekerja menyampaikannya ke majikan atau perusahaannya bahwa UT perguruan tinggi negeri yang resmi dan bekerjasama dengan Kemenaker RI. "Sehingga majikan atau perusahaan-perusahaan di Jepang percaya," imbuhnya.

Berikutnya, dalam seleksi PMI ke luar negeri digelar pelatihan melalui LPK. "Kami terus mensosialisasikan UT kepada LPK dengan harapan mereka menyampaikan informasi kepada calon pekerja di Jepang untuk ikut kuliah di UT," ujarnya. Dia mengungkapkan para pekerja yang bekerja di Jepang memikirkan manakala kontrak habis akan pulang ke Indonesia. Karena itu, mereka mempersiapkan diri setibanya di tanah air. "Ketika pulang ke Indonesia mereka harus punya gelar, kompetensi itu yang membuat mereka bekerja sambil kuliah. Harapan mereka pulang ke Indonesia bukan saja membawa uang juga membawa ijazah untuk dipergunakan mendaftar CPNS, atau buka usaha sendiri, atau bekerja di perusahaan terkait. Bahkan telah ada yang menjadi lurah," ungkapnya.

Dikemukakannya, UT-LLN berharap pula melalui asosiasi pengusaha Jepang atau Japinda bisa menyampaikan kepada pemerintah Jepang untuk dapat membuka kesempatan agar lulusan UT dapat bekerja di sektor lain, seperti sektor jasa. Melalui Japinda diharapkannya membantu mempromosikan UT kepada seluruh jaringan pengusaha di Jepang agar para pekerja yang berasal dari Indonesia mendapat kemudahan dan dispensasi kuliah di UT. Selain itu, para lulusan alumni UT juga mendapat kemudahan kenaikan level di pekerjaannya.

"Melalui Japinda berharap agar lulusan alumni UT dapat mengisi kekosongan pekerjaan di Jepang," tukas Pardamean. Ia menukas kerjasama dengan Kemenaker juga dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran (KP2M) serta Japinda, dapat membuat regulasi dan mengusulkan kepada pemerintah Jepang dalam mengubah kebijakan yang lebih pro kepada pekerja Indonesia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya