Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Vitamin Murah vs Premium, Mana yang Lebih Efektif?

N Apuan Iskandar
03/3/2026 12:38
Vitamin Murah vs Premium, Mana yang Lebih Efektif?
Ilustrasi(freepik)

PASAR suplemen dan vitamin di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan preventif. Di pasaran, harga vitamin sangat bervariasi, mulai dari kisaran Rp10 ribu per strip hingga jutaan rupiah untuk paket premium impor. Pertanyaannya, apakah harga tinggi selalu berarti kualitas lebih baik?

Data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan setiap suplemen yang beredar wajib memiliki izin edar dan memenuhi standar keamanan serta mutu. Artinya, produk dengan harga terjangkau sekalipun harus lolos uji kualitas dasar, termasuk kandungan bahan aktif dan keamanan konsumsi.

Secara global, laporan dari Grand View Research mencatat nilai pasar suplemen makanan dunia mencapai lebih dari US$150 miliar pada 2023 dan diproyeksikan terus tumbuh. Faktor yang memengaruhi harga antara lain sumber bahan baku, proses produksi, teknologi formulasi, biaya riset, sertifikasi, hingga strategi pemasaran.

Menurut National Institutes of Health (NIH) Office of Dietary Supplements, efektivitas vitamin lebih ditentukan dosis, bioavailabilitas (kemampuan tubuh menyerap nutrisi), dan kebutuhan individu, bukan semata harga. Sebagai contoh, kebutuhan vitamin C harian orang dewasa berkisar 75-90 mg. Produk dengan harga tinggi belum tentu memberikan manfaat tambahan jika dosisnya sama dengan produk yang lebih murah.

Perbedaan harga juga bisa muncul karena bentuk sediaan. Vitamin dengan teknologi lepas lambat (time-release), bentuk liposomal, atau kombinasi multi-nutrien kompleks cenderung lebih mahal karena proses produksinya lebih canggih. Selain itu, produk impor dikenakan biaya distribusi dan pajak yang dapat meningkatkan harga jual.

Namun, para ahli gizi menekankan tidak semua orang membutuhkan suplemen dosis tinggi. Konsumsi berlebihan justru berpotensi menimbulkan efek samping, terutama untuk vitamin larut lemak seperti A, D, E, dan K yang dapat terakumulasi dalam tubuh.

Melengkapi Bukan Mengganti

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan suplemen sebaiknya digunakan untuk melengkapi, bukan menggantikan, pola makan seimbang. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dianjurkan sebelum mengonsumsi vitamin dosis tinggi atau produk premium dengan klaim khusus.

Dengan demikian, harga bukan satu-satunya indikator kualitas. Konsumen disarankan memeriksa izin edar BPOM, membaca komposisi, menyesuaikan dengan kebutuhan harian, serta mempertimbangkan saran medis sebelum memutuskan membeli vitamin, baik yang berharga puluhan ribu maupun jutaan rupiah. (Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)/National Institutes of Health (NIH)/Grand View Research/Kementerian Kesehatan Republik Indonesia/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya