Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Djenar Maesa Ayu Galang Dana untuk Wujudkan Mimpi Nay

Retno Hemawati
05/11/2015 00:00
Djenar Maesa Ayu Galang Dana untuk Wujudkan Mimpi Nay
(MI/Permana)
SUTRADARA perempuan Indonesia, Djenar Maesa Ayu, 42, melakukan penggalangan dana untuk mewujudkan harapannya membuat film Nay yang skripnya hanya dikerjakan dalam waktu sebulan. Film itu akan tayang perdana di bioskop mulai 19 November 2015. "Setelah menggarap skrip, kami kesulitan mendapatkan investor. Akhirnya diputuskan melakukan penggalangan dana melalui laman Wujudkan.com," kata Nay, demikian namanya sering disebut di kantor Media Indonesia, Jakarta, Senin (2/11).

Menurut dia, melalui penggalangan dana, kreator menjadi memiliki kesempatan untuk berkarya sesuai dengan visi dan misi mereka, serta bukan sekadar visi dan misi investor. Singkat cerita, Djenar dan tim akhirnya mampu mengumpulkan Rp250 juta yang kemudian digunakan untuk praproduksi. "Kebutuhannya adalah Rp1,5 miliar, tapi pada tahap produksi dan post production, kami merasa tidak mungkin mencari dana dengan cara yang sama," kata dia.

Djenar pun kemudian mendatangi kedua kakaknya, yakni musikus Sri Aksana Sjuman (Wong Aksan) dan koreografer Arya Yudistira Sjuman. "Mereka akhirnya menjadi investor film Nay sekaligus menggagas rumah produksi yang diberi nama Rumah Karya Sjuman. Jadi, Nay ini sekaligus menjadi film perdana," kata ibu dua anak dan nenek satu cucu ini semringah. Selain pendanaan keluarga, film itu juga disponsori Mini Cooper Indonesia dan perusahaan operator telekomunikasi seluler XL Axiata.

"Saya bersyukur disponsori mereka karena sesuai dengan film Nay," ujarnya. Dia kemudian menjelaskan, film itu nantinya akan berlatar di dalam sebuah mobil, dengan seorang tokoh tunggal, yakni Ine Febriyanti sebagai Nay yang melakukan percakapan melalui telepon seluler. "Mobil itu sebenarnya adalah metafora konstruksi sosial yang membentengi seorang perempuan dan membuat dirinya menjadi sulit menentukan pilihan. Tapi pada akhirnya, walaupun sepertinya di luar sana banyak lampu-lampu, kenapa itu juga malam hari, tapi konstruksi sosial itu malah mengepung seseorang untuk tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya diputuskan dalam hidup. Tapi, bagaimanapun juga setiap orang bisa menentukan pilihannya sendiri. Jadi, itulah mengapa dia nyetir mobil dan menentukan jalan hidupnya," jelas penulis buku itu. Dia merasa tertantang membuat film monolog pertama di Indonesia. "Ini sungguh tantangan dan membangkitkan adrenaline rush, bagaimana membuat penonton bertahan duduk selama 80 menit untuk menyaksikan akting Ine," kata sutradara film Koper (2006) dan Mereka Bilang, Saya Monyet! (2008).

Film mendatang
Seusai menggarap Nay, Djenar telah bersiap menggarap film berjudul Aku berdasarkan buku dengan judul sama yang telah ditulis sutradara sekaligus sang ayah, Sjumandjaja. "Ini sudah bukan seperti skrip, tapi sebagai sebuah karya sastra yang dibaca sebagai skrip. Semuanya sudah sedemikian detail, ah luar biasa!" kata dia. Film yang tahun depan akan mulai praproduksi itu akan mengisahkan cerita hidup penyair Chairil Anwar.

"Saya rasa itu karya terbaik ayah saya dan moral obligation buat kami anak-anaknya juga pasti besar. Jadi harus benar-benar matang," lanjut Djenar.D ia pun bersyukur, buku Aku dan Sjumandjaja semakin terkenal karena film Ada Apa dengan Cinta (2002) yang diproduseri Mira Lesmana. "Kira-kira Rangga masih bawa buku Aku lagi tidak ya di Ada Apa dengan Cinta 2?," tanyanya penuh harap.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya