Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Perempuan Jangan Abai Serangan Jantung

Eni Kartinah
04/11/2015 00:00
Perempuan Jangan Abai Serangan Jantung
(Dok MI)
Siang itu, ia tengah menemani sang suami, Hartono, 65, di ruang tunggu sebuah rumah sakit (RS). Laki-laki pensiunan pegawai negeri itu akan menjalani pemeriksaan kesehatan jantung yang menjadi bagian dari paket medical check-up rutinnya.

"Buat saya, yang penting bapak dan anak-anak sehat, sudah cukup," imbuh ibu dua anak itu.

Penjelasan Ratna mungkin mewakili sebagian perempuan di masyarakat yang kurang memedulikan ancaman penyakit jantung. Bagi mereka, penyakit jantung lebih identik dengan laki-laki.

Padahal, data nasional dan global menunjukkan penyakit kardiovaskular, termasuk di dalamnya serangan jantung, merupakan penyebab kematian nomor satu baik bagi laki-laki maupun perempuan. "Penyakit jantung tidak memandang jenis kelamin," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siska Suridanda Danny di Jakarta, Senin (2/11).

Bahkan, lanjutnya, serangan jantung pada perempuan lebih sering menimbulkan kematian ketimbang pada laki-laki. Dokter yang berpraktik di RS Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita Jakarta itu menunjukkan data yang dihimpun dari RS-RS di wilayah Jakarta Barat. Pada periode Juni 2014-Juni 2015, tingkat kematian pada pasien serangan jantung laki-laki sebesar 8%. Pada perempuan angkanya dua kali lipat lebih, 16,8%.

"Data nasional belum ada, tapi data dari RS-RS di Jakarta Barat itu bisa menjadi gambaran bahwa serangan jantung lebih banyak menyebabkan kematian pada perempuan," kata Siska.

Dengan fakta tersebut, lanjutnya, seharusnya masyarakat, terutama kaum perempuan, juga punya perhatian lebih pada penyakit jantung. Siska yang juga Wakil Kepala Bagian Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Yayasan Jantung Indonesia itu menuturkan ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum perempuan cenderung mengabaikan penyakit jantung.

Pertama, mereka lebih mengkhawatirkan ancaman penyakit yang spesifik menyerang perempuan seperti kanker payudara dan kanker serviks. Kedua, kasus-kasus serangan jantung yang mengemuka di media maupun di lingkungan pergaulan masyarakat lebih banyak yang terjadi pada laki-laki. Ketiga, faktor budaya yang membuat kaum perempuan cenderung dinomorduakan.

"Seperti soal medical check-up, kalau suami menjalani medical check-up, si istri harusnya juga, jangan dinomorduakan," tegas Siska.

Lebih lanjut Siska menjelaskan mengapa tingkat kematian akibat serang­an jantung pada perempuan lebih banyak jika dibandingkan ­dengan pada laki-laki. Salah satu penyebabnya faktor usia. Serangan jantung pada perempuan umumnya terjadi di usia lanjut, rata-rata di usia 60 tahun ke atas. Karena itu, kondisi umum tubuh mereka saat terkena serangan lebih lemah.

"Saat masih muda, perempuan ‘dilindungi’ oleh hormon estrogen yang berperan menjaga kelenturan pembuluh darah dan mencegah terbentuknya sumbatan di pembuluh darah. Namun, ketika perempuan memasuki masa menopause, kadar estrogen menurun drastis, risiko serangan jantung pun meningkat," jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, kerap kali perempuan yang terkena serangan jantung memiliki penyakit kronis lain seperti diabetes dan hipertensi. Hal-hal itulah yang menyebabkan risiko kematian meningkat.

Sebelum 12 jam
Terkait dengan penanganan, tidak ada perbedaan antara pasien laki-laki dan perempuan. Prinsipnya, begitu gejala serangan terjadi, penderita harus segera dibawa ke RS. Penanganan yang tertunda berisiko kematian dan kerusakan jantung permanen.

Saat serangan terjadi, pasokan darah pembawa nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan otot jantung terhenti. Makin lama, makin banyak otot jantung yang rusak karenanya. Otot yang rusak menjadi jaringan parut yang tidak lagi bisa mendukung kerja jantung dalam memompa darah.

"Kalau penderita tidak meninggal, nantinya gampang sesak napas dan lemah karena jantung tidak maksimal dalam memompa darah ke seluruh tubuh," tambahnya.

Idealnya, kata Siska, penderita serangan jantung sudah harus ditangani sebelum 12 jam sesudah mengalami gejala. Penanganan pada rentang golden period itu untuk menghindarkan penderita dari risiko kematian dan kerusakan jantung.

"Penanganan dilakukan dengan obat penghancur sumbatan di pembuluh darah jantung, atau dengan tindakan pembalonan dan pemasangan stent (ring) untuk membuka sumbatan," ujarnya.

Sayangnya, menurut Siska, pasien perempuan kadang terlambat ditangani karena mengabaikan gejala, juga karena perempuan cenderung menunggu suami atau anak saat dokter meminta persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan. "Padahal, tindakan harus cepat dilakukan, sementara si suami, anak, atau kerabat lain masih jauh dari RS."

Siska pun mengimbau agar masyarakat memahami bahwa serangan jantung harus diwaspadai baik oleh laki-laki maupun perempuan. (H-1)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya