DEBORAH Dewi, 34, satu-satunya ahli grafologi dari Indonesia yang bernaung di bawah American Association of Handwriting Analyst (AAHA) dan American Handwriting Analysis Foundation (AHAF) akan menggelar Festival Bohong Indonesia (FBI). Acara itu digagas dirinya dan rekan kerja sekaligus suaminya sendiri, Handoko Gani, setelah menyelesaikan pendidikan BAII (behaviour analysis & investigative interview) di Paul Ekman Group UK. "Ide membuat FBI ini muncul karena selain kami pernah mengalami betapa tidak enaknya dibohongi, hati nurani kami juga gelisah dan tidak senang menyaksikan berbagai jenis kebohongan dalam kehidupan sehari-hari," kata Debo kepada Media Indonesia, Minggu (1/10).
Dia kemudian mencontohkan ketika harus 'bergerilya' mencari asisten rumah tangga untuk mengasuh anak. Keduanya menemukan tidak semua pengakuan calon asisten rumah tangga yang mencintai anak-anak itu benar. "Ada yang karakternya berbahaya bagi proses tumbuh kembang anak karena sangat agresif dan labil emosinya, tetapi disodorkan dan dikemas dengan seragam babysitter profesional. Padahal, asisten rumah tangga yang bersentuhan langsung dengan anak punya peranan dalam pola asuh yang bisa membentuk perilaku anak," jelas dia.
Dengan dua kepiawaian yang berbeda, Debo dan Handoko akan menganalisis dengan cara yang berbeda. Debo akan menganalisis kesesuaian karakter dan perilaku yang ditampilkan, sedangkan Handoko akan menganalisis kesesuaian emosi dan ekspresi yang ditampilkan. Ketidaksesuaian tersebut, entah karakter atau ekspresi emosinya, menunjukkan ada kebohongan di dalamnya. Mereka ingin banyak orang tidak tertipu dengan memercayai hal yang belum tentu benar dan tidak sembarang berburuk sangka kepada orang lain karena apa yang mereka sangka bohong belum tentu demikian adanya. "Alangkah indahnya jika kita hidup dalam lingkungan yang jujur. Jujur dengan diri sendiri, jujur juga dengan orang lain," terang ibu satu anak itu.
Sejauh ini peminat yang ingin mengikuti festival datang dari berbagai kalangan. Ketika ditanya bagaimana jika ada calon peserta yang ingin ikut supaya lebih jago berbohong, Debo menjawab tangkas, "Justru bagus karena dia akan menyadari bahwa berbohong tidak semudah yang dia kira sehingga dia jadi takut karena kalau berbohong, pasti ketahuan."
Dekat dengan alzheimer Selain sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta dan menjadi konsultan di berbagai instansi, Debo menyediakan waktunya untuk pergi pulang Jakarta-Malang. Dia memiliki waktu khusus untuk ibunya yang merupakan penderita alzheimer dan tinggal di kota itu. Dia juga turut dalam Alzi (Yayasan Alzheimer Indonesia) yang digagas DY Suharya dengan visi meningkatkan kualitas hidup bagi ODD (orang dengan demensia) dan caregiver-nya.
Dengan dukungan Alzi Jakarta, Debo juga membentuk Kelompok Peduli Dementia Alzheimer di Malang pada September 2015. "Puji Tuhan kelompok ini sangat aktif dan berkembang secara organik. Saya buatkan Whatsapp group dengan keterlibatan ada lima dokter di dalamnya sebagai wadah komunikasi bersama saat ini untuk tukar info, berbagi kiat, dan tolong-menolong di antara semua anggota yang rata-rata merawat sendiri orangtua yang menderita alzheimer," tutup Debo. (H-3)