Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Tuberkulosis Paling Mematikan di Dunia

Puput Mutiara
03/11/2015 00:00
Tuberkulosis Paling Mematikan di Dunia
(ANTARA/VITALIS YOGI TRISNA)
BADAN Kesehatan Dunia (WHO) baru merilis fakta mengejutkan bahwa tuberkulosis (Tb) menjadi penyakit paling mematikan di dunia menggantikan HIV/AIDS.

Data itu dilihat dari jumlah pasien meninggal terbanyak akibat Tb pada 2014.

Di Indonesia, sedikitnya ada 67 ribu pasien penderita tuberkulosis meninggal dunia setiap tahunnya. Berdasarkan hasil survei tuberkulosis nasional, prevalensi Tb mencapai 267 per 100 ribu penduduk.

"Itu angka kematian tertinggi untuk penyakit menular," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Kemenkes) M Subuh saat dihubungi, kemarin.

Untuk diketahui, Tb ber-kaitan erat dengan penyakit gula darah (diabetes).

Bahkan, penderita diabetes berpotensi tiga kali lebih besar terkena penyakit tuberkulosis.

Pasalnya, kondisi gula darah yang tinggi akan menjadi media sangat bagus bagi kuman-kuman termasuk Mycrobacterium tuberculosis.

Dengan demikian, kolaborasi kedua penyakit itu berisiko tinggi menyebabkan kematian.

"Tidak jarang penderita tuberkulosis tidak tahu dia diabetes, karenanya harus dilakukan tes gula darah. Begitu juga orang diabetes yang batuk lama tidak sembuh-sembuh harus dipe-riksa dahaknya."

Pada prinsipnya, tambah dia, diperlukan deteksi dini untuk mengetahui kemungkinan seseorang mengidap kedua penyakit itu.

Pemeriksaan untuk tuberkulosis maupun diabetes dapat dilakukan di puskesmas.

Lebih lanjut, jelas Subuh, Indonesia saat ini sedang me-rancang sebuah sistem agar uji diabetes dan tuberkulosis dilakukan sekaligus.

Kebijakan mengenai hal itu baru akan diimplementasikan tahun depan.

Namun, secara program, Kemenkes sudah mengeluarkan surat edaran untuk pemeriksaan keduanya terhadap pasien.

Masalah biaya nantinya akan dibicarakan dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

"Yang jelas kita harus waspadai proyeksi 2035 bahwa negara kita termasuk terbesar jumlah penderita diabetes. Ada kemungkinan kalau kita tidak lakukan intervensi untuk hidup bersih dan sehat."

Komitmen dunia

Di sisi lain, komitmen kuat Indonesia dalam hal itu juga dibuktikan dengan menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) internasional pertama dunia dalam upaya mencegah krisis kesehatan global yang diselenggarakan di Bali, 2 dan 3 November 2015.

Pada kesempatan itu, WHO melaporkan diabetes yang juga berisiko pada penderita tuberkulosis telah mengakibatkan 1,5 juta orang meninggal pada 2014, dengan 77% kasus terjadi di negara berpenghasil-an rendah dan menengah.

Managing Director Yayasan Diabetes Dunia Anders Dej-gaard menjelaskan, pada 2035 penderita diabetes akan mencapai 592 juta orang dan bisa menyulut epidemi tuberkulosis secara global.

"Sistem kesehatan harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan ini, khususnya negara berpenghasilan rendah dan menengah yang tantangannya lebih parah," ucapnya.

Menurut Anders, seluruh negara harus sama-sama berjuang untuk melawan epidemi tuberkulosis dan diabetes di masa mendatang.

Salah satunya dengan menandatangani Deklarasi Bali sebagai bentuk komitmen bersama. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya