Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Orang Rimba, Ternak Kambing, dan Es Krim

SL/Hnr/Ami/X-7
03/11/2015 00:00
Orang Rimba, Ternak Kambing, dan Es Krim
(AFP/SETPRES/RUSMAN)
POLEMIK di media sosial membahas foto Presiden Joko Widodo bersama suku Anak Dalam di area kebun kelapa sawit yang dituduh merupakan hasil rekayasa marak.

Namun, sumber yang ikut hadir saat kunjungan Presiden Jokowi ke dekat lokasi orang rimba berdomisili di pinggiran Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, memastikan foto itu murni, bukan rekayasa.

Temenggung Tarib, tokoh adat orang rimba di wilayah Bukit Suban dan aktivis konservasi dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi menegaskan, "Aponyo yang direkayasa, Pak? Kalau kelompok Ninjo yang didatangi Rajo Godong Jokowi, memang nianlah dak bebaju," ungkap Temenggung Tarib, kemarin.

Cara hidup masyarakat suku Anak Dalam sesungguhnya tidak sepenuhnya terbelakang seperti tipikal yang kerap digambarkan, yakni tidak mengenakan baju.

Di dalam kelompok masyarakat itu, ada yang sudah modern.

Di antara mereka tidak sedikit yang sudah mengenakan pakaian lengkap.

Sebagian sudah menggunakan sepeda motor bahkan telepon seluler (ponsel).

Saat menantikan kehadiran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dan Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg di lokasi konsesi PT Malaka Agro Perkasa di Kabupaten Bungo, Jambi, Rabu (15/4), misalnya, terlihat ada warga suku Anak Dalam yang menggenggam ponsel. Benda itu pun menjadi pusat perhatian dan bahan perbincangan di antara mereka.

Pemilik ponsel memperlihatkan foto ternak kambing kepunyaannya.

"Sebagian dari kami tinggal di kawasan dekat desa. Kalau saya punya 40 ekor kambing," jelas seorang suku Anak Dalam ketika itu.

Di tempat lain, sebagian kaum perempuan terlihat mendatangi tenda untuk mengambil karung berisi beras. Anak-anak, sesaat sebelum hujan mengguyur, silih berganti membeli es krim dari pedagang bersepeda motor.

Sementara itu, orang rimba yang lebih di pedalaman cenderung lebih mempertahankan adat.

Seperti pada akhir Maret 2015 saat Media Indonesia menemui kelompok Marituha yang sedang berada di kawasan Desa Terap, Kabupaten Batanghari, di kawasan timur Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Dalam berpakaian, perempuan rimba suku itu hanya mengenakan kain sarung yang mereka sebut jarik.

Terhadap anak gadis, jarik yang digunakan sebatas dada sampai di bawah lutut.

Untuk perempuan yang sudah menikah, jarik yang digunakan hanya menutupi bagian bawah perut hingga sampai ke bawah lutut.

Mereka juga menolak difoto karena khawatir terkena penyakit.

Bahkan, sandasodangun (rumah orang rimba) pun dilarang diabadikan kamera.

Pasalnya, mereka percaya perempuan sangat dilindungi dewa dan perempuan ialah perantara dewa.

Sandasodangun dilarang diabadikan karena dewa datang pada malam hari.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya