BENCANA kabut asap yang terjadi selama hampir empat bulan terakhir menimbulkan berbagai dampak serius bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak sebagai pihak yang paling rentan terpapar, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganjurkan segera dibuat sebuah gerakan untuk menyelamatkan anak-anak dari serbuan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Terlebih jumlah anak-anak korban asap semakin bertambah.
"Harus ada sebuah gerakan khusus yang terkoordinasi untuk menyelamatkan anak-anak di daerah terdampak asap," seru Ketua KPAI Asrorun Niam Soleh saat dihubungi, kemarin.
Selain itu, kata dia, dampak asap pada anak-anak diduga akan mengganggu tumbuh kembang mereka kelak.
Pasalnya, asap membuat daya tahan tubuh mereka menurun dan mudah terinfeksi penyakit.
Tercatat, 16 orang meninggal akibat kabut asap. Mayoritas korban ialah anak berusia di bawah lima tahun.
Sebelumnya, anggota Departemen Bidang Pembinaan Anggota dan Organisasi Ikatan Dokter Indonesia M Yahya mengatakan partikel berbahaya pada asap seperti silika, alumina, oksida besi, dan timbel dikhawatirkan dapat memicu berbagai gangguan pada tubuh anak.
Tidak hanya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga gangguan lain seperti alzheimer dan parkinson yang dapat terjadi dalam beberapa tahun kemudian (Media Indonesia, 2/11).
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise meminta pihak terkait memiliki kebijakan nyata untuk melindungi balita, anak, dan wanita hamil dari bahaya asap.
Ketiganya, kata dia, merupakan kelompok paling rawan mengalami masalah kesehatan akibat asap, selain orang yang telah mengidap penyakit kronis.
"Sudah lebih dari tiga bulan mereka terpapar asap. Ini sudah berbahaya," imbuh Yohana, di Jakarta, kemarin.
Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan Jakarta Agus Dwi Susanto sependapat dengan adanya gerakan lintas sektoral demi menyelamatkan anak-anak dari korban asap.
Dalam jangka pendek, lanjutnya, terhirupnya asap menimbulkan iritasi saluran pernapasan, kemudian meningkat ke ISPA.
Dalam jangka panjang, kata Agus, asap dapat me-nimbulkan penurunan fungsi paru, hipersensitif saluran pernapasan.
"ISPA yang tidak teratasi dapat meng-akibatkan kematian," pungkasnya.
Hambat bonus demografi Pengamat kependudukan Sonny B Harmadi mengatakan bencana asap dalam jangka panjang memengaruhi bonus demografi Indonesia.
Penurunan kualitas usia produktif akan menghambat bonus demografi yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2042 mendatang.
"Kalau anak-anaknya terkena pengaruh negatif secara kesehatan, apalagi yang berpengaruh dalam jangka panjang, tentu memengaruhi kualitas mereka di beberapa tahun ke depan ketika mereka tengah berada di usia produktif," ungkap Sonny.
Di Kalimantan Tengah, meski hujan sudah mulai turun, jarak pandang dan indeks standar pencemar udara (ISPU) sudah kembali membaik.
Namun, status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan kembali diperpanjang hingga 20 November 2015.
Alasannya, kebakaran hutan dan lahan belum benar-benar padam.
Kepala Dinas Kesehatan Riau Andra Sjafril mengatakan jumlah pasien korban asap yang sebagian besar anak-anak saat ini telah mencapai 97.139 jiwa.
"Kabut asap juga meng-akibatkan anak-anak terserang penyakit asma, pneumonia, mata, dan kulit," jelasnya. (Pro/Ind/RK/SS/DY/X-6)