Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KECUKUPAN gizi anak tidak dapat diukur hanya dari rasa kenyang. Anak membutuhkan keseimbangan antara nutrien makro, seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta nutrien mikro seperti vitamin dan mineral agar pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif berlangsung optimal.
Pemahaman inilah yang masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga di Indonesia, terutama pada anak usia dini. Untuk memperkuat literasi gizi sekaligus menjawab kesenjangan antara harapan orang tua dan praktik sehari-hari, Danone Indonesia melalui unit Specialized Nutrition menghadirkan forum edukasi Health Corner bertajuk “Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap” dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional 2026.
Forum ini menyoroti pentingnya pemenuhan nutrisi pada anak usia 1–5 tahun sebagai fondasi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif. Diskusi menghadirkan dokter spesialis gizi klinik dr. Juwalita Surapsari, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, serta figur publik Dhea Ananda yang berbagi pengalaman sebagai orangtua. Data survei terhadap ribuan ibu menunjukkan masih adanya jarak antara aspirasi orangtua dan realitas pemenuhan nutrisi anak di rumah.
Mayoritas orangtua menjadikan tinggi badan, berat badan, dan kemampuan kognitif sebagai indikator utama tumbuh kembang. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada kualitas dan kelengkapan asupan gizi harian. Sekitar 60% responden menempatkan tinggi badan dan kemampuan kognitif sebagai indikator utama, tetapi 69,76% belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro.
Sementara itu, 62,8% mengaku mikronutrien seperti vitamin dan mineral adalah komponen yang paling sulit dipenuhi setiap hari. Selain itu, 69% orangtua menyebut anak yang pilih-pilih makanan sebagai hambatan utama dalam memenuhi kebutuhan gizi.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Juwalita Surapsari menegaskan bahwa orangtua memiliki peran sentral dalam menentukan pola makan anak, mulai dari jenis makanan hingga waktu pemberian makan. Namun, proses makan tetap harus responsif terhadap kebutuhan anak.
"Orangtua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan, kapan anak makan, dan bagaimana anak makan. Namun anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Karena itu, pemberian makan tidak boleh dilakukan dengan paksaan,” ujarnya.
Menurutnya, periode usia 1–5 tahun merupakan masa emas pertumbuhan ketika kebutuhan nutrisi meningkat pesat. Sejumlah mikronutrien penting yang harus tercukupi antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan dalam perkembangan otak.
Selain nutrisi, stimulasi juga menjadi faktor yang tidak terpisahkan dari tumbuh kembang anak. Aktivitas sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, atau bermain bersama dapat mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional.
"Gizi dan stimulasi merupakan dua fondasi utama yang harus berjalan beriringan,” tambahnya.
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. Ray Wagiu Basrowi menekankan bahwa banyak orang tua menganggap anak sudah cukup makan ketika terlihat kenyang, padahal kebutuhan nutrisi esensial mungkin belum terpenuhi.
“Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta berbagai vitamin dan mineral lainnya. Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi tertentu, asupan padat gizi seperti susu fortifikasi dapat membantu melengkapi kebutuhan harian sebagai bagian dari pola makan seimbang. Riset Danone Indonesia bersama Indonesia Nutrition Association menunjukkan anak yang mengonsumsi susu terfortifikasi zat besi memiliki peluang jauh lebih besar untuk mencukupi kebutuhan zat besi, yang berkaitan dengan capaian pertumbuhan yang lebih baik.
Pada usia dini, kebutuhan nutrisi meningkat cepat sementara kapasitas makan anak masih terbatas. Karena itu, pemilihan makanan padat gizi menjadi strategi penting agar kebutuhan nutrisi tercapai tanpa harus meningkatkan volume makanan secara berlebihan.
Dhea Ananda juga membagikan pengalamannya menghadapi anak yang cenderung selektif terhadap makanan. Ia mengakui bahwa memahami kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh tidaklah mudah bagi orang tua.
“Sebagai orangtua, kita ingin anak tumbuh tinggi, berat badan ideal, dan cepat tanggap. Tapi memahami nutrisi secara lengkap ternyata tidak sesederhana itu. Awalnya saya hanya fokus pada karbohidrat dan protein, padahal vitamin dan mineral justru sering paling sulit dipenuhi,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya edukasi gizi yang praktis dan mudah dipahami. Banyak orang tua merasa anak sudah makan cukup, tetapi belum tentu nutrisinya sudah lengkap.
Melalui Health Corner, Danone Specialized Nutrition Indonesia menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak harus dipandang secara komprehensif, tidak hanya memastikan anak kenyang, tetapi juga memastikan kecukupan nutrien makro dan mikro yang esensial, disertai stimulasi yang tepat pada periode emas pertumbuhan.
Sebagai bagian dari komitmennya, Danone Indonesia menyatakan akan terus menghadirkan edukasi berbasis sains yang mudah dipahami serta solusi nutrisi praktis yang relevan bagi keluarga Indonesia.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan, organisasi profesi, media, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat membantu orang tua memastikan anak tumbuh sehat, tangguh, dan berdaya saing di masa depan. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved