"HELLO Miss," sapa sekumpulan anak kecil kepada Syaharani di sebuah desa di Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ketika itu, penyanyi jazz yang akrab disapa Rani itu berkunjung ke desa tersebut untuk mengisi acara Maratua Jazz and Dive Fiesta. Oleh penduduk lokal, dia dikira bule lantaran rambutnya yang dicat pirang.
"Kami tinggal di rumah penduduk, enak banget di tepi pantai. Hari pertama datang dari pelabuhan sampai penginapan dipanggil-panggil bule sama anak kecil," kenangnya tertawa, ketika menuturkan pengalamannya kepada Media Indonesia, Jumat (30/10).
Maratua merupakan pulau kecil yang menjadi bagian dari wilayah Pemerintah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Pulau berbentuk kecil panjang dan lengkung tajam itu berada di sebelah selatan dari Kota Tarakan.
Di salah satu pulau terluar wilayah Indonesia itulah dihelat Maratua Jazz and Dive Fiesta pada 11-12 September 2015 lalu. Itu merupakan event jazz pertama di kawasan tersebut. Selain Rani, sejumlah musikus jazz kenamaan Indonesia turut ambil bagian. Salah satunya ialah pianis Idang Rasjidi yang tampil bersama kelompoknya, Idang Rasjidi Syndicate.
Jazz yang selama ini dianggap musik gedongan dan sering dimainkan di kota-kota besar kini kerap dihelat di sejumlah daerah terpencil di Indonesia. Bahkan, beberapa tahun terakhir, festival jazz rutin diadakan di Gunung Bromo atau Dieng. Festival-festival jazz semacam ini, kata pendiri situs Wartajazz Agus Setiawan Basuni, memang sekarang menjadi jembatan untuk promosi wisata. Menurut dia, festival semacam ini menjadi tren beberapa tahun terakhir.
"Selanjutnya akan ada di Anambas, Selayar, Sangihe, Wakatobi, Takabonarate, Raja Ampat, dan beberapa destinasi lain. Memang benar kalau dikaitkan dengan pariwisata, spektrumnya akan menjadi lebih besar dan terbukti penikmatnya ada," kata Agus saat ditemui di The Papandayan Jazz Festival di Bandung, belum lama ini.
Menurut seniman Djaduk Ferianto, walau berhasil mendatangkan penonton sekaligus wisatawan, dukungan pemerintah, dalam hal ini dinas pariwisata ataupun Kementerian Pariwisata, dianggap masih kurang untuk festival semacam ini. Djaduk mengatakan dulu dia pernah berkali-kali memasukkan proposal ke pemerintah, tetapi sering ditolak dan baru dua tahun ini mendapat bantuan. "Ya bantuan yang masuk dari pemerintah belum ada apa-apanya, tidak bisa menutup, paling 40% dari kebutuhan produksi. Itu pun juga kena pajak," kata pria penggagas event Ngayogjazz dan Jazz Gunung itu.
Musik sebagai salah satu bagian dari industri kreatif memang sudah semestinya dimanfaatkan untuk mendatangkan devisa bagi negara. Apalagi kita tidak kekurangan sumber daya manusia di bidang tersebut. Banyak musikus lokal yang skill-nya tidak kalah dari musikus luar. Mengawinkan jazz dengan wisata merupakan langkah terobosan yang patut diapresiasi.