Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam mempelajari ilmu tajwid, terdapat berbagai hukum bacaan yang wajib dipahami agar dapat membaca Al-Qur'an dengan tartil dan benar. Salah satu hukum yang tergolong jarang ditemukan namun sangat krusial adalah contoh mad lazim mukhaffaf kilmi. Hukum bacaan ini sering kali menjadi pembahasan khusus karena keunikannya; ia hanya terjadi pada satu kata saja di dalam seluruh isi Al-Qur'an, yang diulang sebanyak dua kali.
Sebelum masuk ke dalam contoh spesifik, penting bagi umat Muslim untuk memahami definisi dari istilah ini secara harfiah maupun istilah. Secara etimologi, hukum ini tersusun dari empat kata: Mad yang berarti panjang, Lazim yang berarti pasti atau wajib, Mukhaffaf yang berarti diringankan, dan Kilmi yang berarti kata (kalimat). Jadi, secara sederhana, mad lazim mukhaffaf kilmi adalah bacaan panjang yang wajib dibaca ringan dan terjadi dalam satu kata.
Hukum ini terjadi apabila terdapat Mad Thabi'i bertemu dengan huruf hijaiyah yang berharakat sukun (mati) asli dalam satu kata. Kunci perbedaannya dengan hukum mad lazim lainnya terletak pada harakat sukun tersebut, yang tidak diiringi dengan tasydid (idgham).
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, contoh mad lazim mukhaffaf kilmi di dalam Al-Qur'an hanya terdapat pada satu lafal, yaitu "Al-Aana". Lafal ini terdapat dalam Surat Yunus, tepatnya pada ayat 51 dan ayat 91. Berikut adalah uraian lengkap beserta teks Arab dan cara membacanya.
Pada ayat ini, Allah SWT berfirman mengenai orang-orang yang baru beriman ketika azab telah datang menimpa mereka. Kata yang mengandung hukum mad lazim mukhaffaf kilmi terdapat di awal pertanyaan retoris dalam ayat tersebut.
أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ ۚ آلْآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ
Artinya: "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" (QS. Yunus: 51)
Pada potongan ayat di atas, lafal آلْآنَ (Al-Aana) adalah tempat berlakunya hukum tersebut. Huruf Hamzah yang merupakan Mad Badal bertemu dengan huruf Lam yang berharakat sukun (mati) dalam satu kata.
Contoh kedua terdapat pada surat yang sama, yang menceritakan tentang Firaun yang baru menyatakan keimanan ketika ia sudah hampir tenggelam di Laut Merah. Allah SWT menegur keterlambatan taubat tersebut dengan lafal yang sama.
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Yunus: 91)
Sama halnya dengan ayat 51, pada ayat 91 ini lafal آلْآنَ dibaca dengan hukum mad lazim mukhaffaf kilmi. Ini adalah satu-satunya kata dalam Al-Qur'an yang menerapkan hukum ini, menjadikannya sangat istimewa dalam kajian ilmu tajwid.
Setelah mengetahui letak ayatnya, hal terpenting berikutnya adalah mempraktikkan cara membacanya dengan benar. Kesalahan dalam panjang pendek bacaan dapat mengubah arti atau menyalahi kaidah tilawah yang telah disepakati oleh para ulama Qurra.
Berikut adalah panduan cara membacanya:
Seringkali pelajar pemula tertukar antara contoh mad lazim mukhaffaf kilmi dengan saudaranya, Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi. Meskipun keduanya sama-sama "Lazim" (wajib 6 harakat) dan "Kilmi" (dalam satu kata), terdapat perbedaan mendasar yang membedakan keduanya:
Memahami contoh mad lazim mukhaffaf kilmi merupakan bagian dari penyempurnaan bacaan Al-Qur'an. Meskipun hanya terdapat dua contoh dalam seluruh Al-Qur'an, yaitu pada Surat Yunus ayat 51 dan 91, ketepatan dalam membacanya menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang terhadap ilmu tajwid.
Ingatlah kaidah utamanya: dibaca panjang 6 harakat dan diringankan (tanpa tasydid) saat masuk ke huruf sukun. Dengan mempelajari hukum-hukum bacaan ini secara mendetail, kita berharap dapat menjaga keaslian bacaan Al-Qur'an sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan mendapatkan keberkahan dari setiap huruf yang dilafalkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved