Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Jaga Kain sekaligus Kulit Sensitif

Naufal Zuhdi
07/1/2026 20:25
Jaga Kain sekaligus Kulit Sensitif
Ilustrasi(Dok Sayang)

RUTINITAS mencuci pakaian sering dianggap sederhana, namun pilihan produk yang digunakan punya dampak langsung terhadap kenyamanan, kesehatan kulit, dan kualitas kain. Seiring meningkatnya kesadaran tentang bahan kimia yang bersentuhan langsung dengan tubuh, permintaan konsumen terhadap deterjen yang lebih lembut dan 'kulit-friendly' ikut meningkat.

Salah satu pendekatan yang muncul di pasar adalah deterjen yang dirancang khusus untuk mengurangi potensi iritasi kulit, terutama bagi pemilik kulit sensitif. Deterjen Sayang Hijab Lavender menjadi contoh produk yang menawarkan pilihan tersebut, dengan formula yang tanpa Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan tanpa paraben. Dua komponen tersebut umum dipakai sebagai surfaktan dan pengawet, tetapi dikenal dapat membuat kulit kering dan rentan iritasi jika terpapar terus-menerus.

Selain komposisi yang lebih ramah untuk kulit, deterjen ini menawarkan pengalaman mencuci pakaian secara efektif dan tetap lembut pada serat kain. Indoor Drying Technology yang diterapkan membantu mencegah munculnya bau apek saat pakaian dijemur di dalam ruangan. Fitur ini dinilai penting bagi masyarakat urban dengan keterbatasan ruang atau di musim hujan, ketika pengeringan luar ruang tidak memungkinkan.

Teknologi lainnya adalah Busa Salju (Snow Foam Technology) yang menghasilkan busa lembut dan ringan. Busa dengankarakter seperti ini cenderung lebih mudah luruh saat dibilas, membantu mengurangi residu deterjen pada kain.

Aspek hubungan antara deterjen dan kesehatan kulit turut diulas oleh dr. Tirta, seorang dokter yang kerap membagikan wawasan kesehatan melalui berbagai kanal edukasi. Ia menekankan bahwa kesalahan dalam pemilihan deterjen dapat berdampak langsung pada kondisi kulit, terutama bagi pemilik kulit sensitif.

“Salah satu faktor penyebab beruntusan biasanya saat memakai pakaian lalu kulit menjadi gatal atau kemerahan. Itu bisa terjadi karena kulit sensitif terhadap residu deterjen pada kain,” ujarnya dalam unggahan video di akun Instagram @dr.tirta, dikutip Rabu (7/1).
 
Menurut dr. Tirta, memilih deterjen tanpa SLS dan Paraben dapat menjadi salah satu langkah pencegahan. Ia juga membagikan pengalamannya menggunakan deterjen tanpa SLS untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mencuci pakaian olahraga.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perawatan pakaian yang tepat bukan hanya soal estetika, tetapi juga kenyamanan dan kesehatan.

“Kalau nyucinya benar dan deterjennya cocok, pakaian tidak mengganggu kulit. Sebaliknya, deterjen yang asal-asalan bisa merusak pakaian dan membuat kulit bermasalah,” katanya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya