Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Misteri Katak "Salah Identitas" Selama 20 Tahun Terungkap di Museum Kansas 

Thalatie K Yani
07/1/2026 12:15
Misteri Katak
Sebuah kesalahan katalog museum selama dua dekade akhirnya terungkap. Katak yang dianggap spesies baru ternyata adalah spesies lama dengan warna berbeda. (A. Maile (kiri) W. E. Duellman (kanan))

SEBUAH kekeliruan ilmiah yang terkubur selama lebih dari dua dekade akhirnya terungkap di University of Kansas Biodiversity Institute and Natural History Museum. Para peneliti menemukan spesies katak beracun yang selama ini dianggap baru, ternyata hanyalah hasil dari kesalahan label pada spesimen museum.

Kasus unik ini bermula pada 1999. Kala itu, seorang peneliti menemukan foto katak berwarna cerah dari hutan hujan Peru. Karena tidak cocok dengan spesies yang dikenal saat itu, ia mendeskripsikannya sebagai spesies baru bernama Dendrobates duellmani. Namun, deskripsi tersebut hanya didasarkan pada foto tanpa memeriksa fisik spesimen yang tersimpan di museum.

Kesalahan Fatal pada Nomor Katalog

Inti dari masalah ini adalah tertukarnya nomor katalog spesimen, yang diibaratkan sebagai "barcode" identitas dalam dunia sains. "Setiap spesimen mendapat nomor katalog. Semua foto, data genetik, hingga rekaman suara tertaut pada nomor tersebut," jelas Ana Motta, manajer koleksi herpetologi di Biodiversity Institute.

Motta menjelaskan bahwa peneliti terdahulu tidak meminta spesimen fisik, melainkan hanya meminta nomor katalog berdasarkan foto yang dilihatnya. Sayangnya, nomor yang diberikan merujuk pada spesimen lain yang berwarna cokelat dan sama sekali berbeda dengan katak berwarna-warni di dalam foto.

Terungkap Saat Penelitian Ulang

Kebenaran baru terungkap ketika para pakar herpetologi berkunjung ke museum untuk mempelajari holotipe. Spesimen fisik tunggal yang menjadi standar resmi sebuah spesies.

"Ketika mereka mendapatkan spesimen dengan nomor tersebut, mereka sadar, ini bukan katak yang dimaksud. Katak di foto sangat berwarna, sedangkan spesimen bernomor itu berwarna cokelat," ujar Motta.

Tim peneliti kemudian melakukan "pekerjaan detektif" dengan mencocokkan kembali catatan lapangan, rekaman foto lama, hingga data genetik. Hasilnya, katak yang selama ini disebut Dendrobates duellmani ternyata bukanlah spesies baru. Ia merupakan variasi warna dari spesies yang sudah dikenal luas, yakni katak beracun Amazon (Ranitomeya ventrimaculata).

Pentingnya Spesimen Fisik di Era Digital

Motta menekankan bahwa meskipun teknologi foto semakin canggih, spesimen fisik tetap menjadi kunci utama dalam sains. Menurutnya, mengandalkan foto saja untuk mendeskripsikan spesies bukanlah praktik terbaik.

"Penting untuk bekerja langsung dengan spesimen karena itu adalah satu-satunya cara Anda mengonfirmasi data agar dapat direproduksi dan diverifikasi. Foto itu terbatas," tegas Motta.

Temuan yang telah dipublikasikan di jurnal Zootaxa ini menjadi pengingat bagi dunia sains tentang betapa vitalnya peran koleksi museum sejarah alam. Bagi Motta, memecahkan teka-teki yang salah selama 20 tahun ini memberikan kepuasan tersendiri. Ia membuktikan koleksi museum bukan sekadar benda mati, melainkan data dinamis yang terus memberikan penemuan baru bagi masa depan. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya