Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Kelahiran Bayi Panda di TSI Bogor Perkuat Posisi Indonesia sebagai Penggerak Konservasi Global

Dede Susianti
07/1/2026 07:48
Kelahiran Bayi Panda di TSI Bogor Perkuat Posisi Indonesia sebagai Penggerak Konservasi Global
Ilustrasi(MI/DEDE SUSIANTI)

KELAHIRAN Rio, panggilan kesayangan Satrio Wiratama, nama bayi panda raksasa yang diberikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, memperkuat bilateral antara RI dengan Republik Tiongkok. 

Selain itu, kelahiran Rio pada 27 November 2025, sekitar pukul 17.31 WIB, di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat,  memperkuat posisi Indonesia sebagai penggerak konservasi global. 

Kelahiran ini merupakan hasil dari riset konservasi lintas negara yang dijalankan melalui kemitraan utama antara Indonesia dan Republik Tiongkok. 

Kelahiran Rio dengan penulisan dalam bahasa Mandarin Li Ao ini juga menjadi salah satu capaian penting dalam konservasi panda raksasa di luar Tiongkok.

TSI secara resmi mengumumkan dan memperkenalkan Rio ke publik tepat di perayaan 40 hari kelahirannya, di Istana Panda, TSI Cisarua, Selasa (6/1).

Dalam sambutannya Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan,  bahwa kehadiran bayi panda ini bukan sekedar kelahiran satwa, tapi menjadi bukti nyata kerja sama diplomasi lingkungan dan kolaborasi ilmiah internasional.   Hubungan yang telah dibangun secara berkelanjutan antara Indonesia dan Republik Tiongkok.

Selain itu, kehadiran panda di Indonesia merupakan hasil usaha dari tiga kepemimpinan presiden RI, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), dan Prabowo.

"Alhamdulillah Pak Presiden Prabowo memberikan nama yang sangat baik Satrio Wiratama, artinya kesatria pemberani, mulia dan berbudi luhur,"imbuhnya.

Keberhasilan ini dicapai melalui penerapan Assisted Reproductive Technology (ART) dengan kolaborasi ilmiah antara TSI dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda (CCRCGP), sebagai mitra utama. Dalam prosesnya juga didukung oleh mitra peneliti nasional dan internasional.

Hal senada juga disampaikan Jansen Manansang, Co-Founder Taman Safari Indonesia Group dan penggagas program konservasi panda di Indonesia. 

“Capaian ini menegaskan tidak hanya komitmen Indonesia untuk berkontribusi aktif dalam konservasi panda raksasa dunia, tetapi juga keberhasilan TSI dalam pendekatan konservasi berbasis sains, disiplin ilmiah jangka panjang, serta standar kesejahteraan satwa berkelas global,"ungkap Jansen dalam sambutannya.

Riset konservasi lanjutnya,  dijalankan sebagai bagian integral dari pilar konservasi TSIG (Taman Safari Indonesia Grup) , serta menjadi fondasi bagi program edukasi dan rekreasi. 

Melalui pendekatan ini, TSIG membangun ekosistem konservasi yang berkelanjutan, mengintegrasikan penelitian ilmiah, tata kelola kesejahteraan satwa yang bertanggung jawab, serta peningkatan literasi konservasi masyarakat.

Panda raksasa telah lama menjadi ikon hubungan bilateral Indonesia–Tiongkok dan simbol diplomasi lingkungan kedua negara. 

Program konservasi panda ini merepresentasikan kepercayaan dan kemitraan strategis dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Sejalan dengan hal tersebut, Kedutaan Besar Republik Tiongkok Wang Lutong, menyampaikan apresiasinya pada TSI. 

Dia menyebut  kelahiran bayi panda ini sebagai hasil kemitraan strategis jangka panjang Indonesia–Tiongkok di bidang konservasi satwa liar dan simbol persahabatan kedua negara.

Di kesempatan yang sama, Esther Manansang, Direktur Operasional dan Life Science Taman Safari Indonesia Group,
menambahkan, keberhasilan ini merupakan hasil kerja tim lintas disiplin. Mulai dari dokter hewan, perawat satwa, peneliti, hingga mitra internasional. 

"Fokus kami bukan hanya pada kelahiran, tetapi memastikan setiap tahapan dijalankan secara bertanggung jawab,"katanya.

Dia juga menyebut, kelahiran bayi panda ini memiliki arti strategis secara global. 

Bayi panda tersebut merupakan satu-satunya kelahiran panda raksasa di luar Tiongkok sepanjang tahun 2025, sekaligus menjadi capaian penting bagi kawasan ASEAN yang menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra aktif dalam konservasi panda raksasa dunia. 

Konservasi satwa endemik

Keberhasilan konservasi panda raksasa ini berjalan seiring dengan komitmen TSI dalam melestarikan satwa endemik Indonesia. 

Selama bertahun-tahun, TSI secara konsisten menjalankan program konservasi berbasis riset terhadap berbagai spesies kunci nasional, termasuk melalui pengembangbiakan terstruktur, pelepasliaran, rescue, pengelolaan studbook,hingga pengembangan genome bank. 

Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi satwa Indonesia tetap menjadi prioritas utama, sejalan dengan peran TSI dalam kerjasama konservasi global.

Ke depan, TSI berharap momentum ini dapat membangun semangat konservasi yang lebih kuat di Indonesia, mendorong kolaborasi lintas sektor, serta meningkatkan kesadaran publik bahwa konservasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan dan masa depan bangsa. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya