Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam mempelajari dasar-dasar agama Islam, pertanyaan mendasar seperti apa yang kamu ketahui tentang iman jelaskan seringkali menjadi pembuka wawasan spiritual seseorang. Memahami iman tidak sekadar mengaku percaya, namun melibatkan dimensi hati, lisan, dan perbuatan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Secara etimologi atau bahasa, kata iman berasal dari bahasa Arab amana-yu'minu-imanan yang berarti percaya, aman, tenang, dan melindungi. Iman juga bermakna at-tasdiq atau membenarkan. Sementara itu, secara terminologi atau istilah syariat, definisi iman yang paling masyhur di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah:
"Tashdiqun bil qolbi, wa iqrarun bil lisan, wa 'amalun bil arkan."
Artinya adalah dibenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak bisa dikatakan beriman sempurna jika hanya meyakini dalam hati tanpa mau mengamalkan perintah agama, atau sebaliknya.
Kewajiban untuk beriman kepada Allah SWT dan rukun-rukun lainnya telah ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur'an. Salah satu dalil utama yang menjadi landasan rukun iman terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 136:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa: 136).
Untuk menjawab secara rinci mengenai apa yang kamu ketahui tentang iman jelaskan, kita wajib menguraikan enam pilar utama atau yang dikenal dengan Rukun Iman. Berikut adalah penjelasannya:
Ini adalah fondasi utama. Beriman kepada Allah berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah itu ada (wujud), Esa (satu), dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Keyakinan ini mencakup Tauhid Rububiyah (meyakini Allah sebagai pencipta), Tauhid Uluhiyah (meyakini hanya Allah yang berhak disembah), dan Tauhid Asma wa Sifat (meyakini nama-nama dan sifat keagungan Allah).
Meyakini bahwa Allah menciptakan malaikat dari cahaya (nur). Mereka adalah makhluk gaib yang senantiasa patuh, tidak memiliki hawa nafsu, dan tidak pernah membangkang perintah Allah. Umat Islam wajib mengetahui sepuluh malaikat utama beserta tugasnya, mulai dari Jibril yang menyampaikan wahyu hingga Malik penjaga neraka.
Seorang mukmin wajib meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab suci kepada para Rasul-Nya sebagai pedoman hidup. Kitab-kitab tersebut meliputi Taurat (Nabi Musa AS), Zabur (Nabi Daud AS), Injil (Nabi Isa AS), dan Al-Qur'an (Nabi Muhammad SAW) sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Meyakini bahwa Allah mengutus manusia pilihan sebagai perantara untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Kita wajib meyakini adanya 25 Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur'an, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai Khatamul Anbiya atau penutup para nabi.
Percaya akan datangnya hari kiamat adalah kunci untuk menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Iman kepada hari akhir mencakup keyakinan akan adanya alam kubur (barzah), hari kebangkitan, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan), sirat (jembatan), serta surga dan neraka sebagai tempat kembali yang abadi.
Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik yang baik maupun yang buruk, terjadi atas kehendak, ketetapan, dan pengetahuan Allah SWT. Ini mengajarkan manusia untuk berikhtiar (berusaha) namun tetap tawakal (berserah diri) terhadap hasil akhirnya.
Setelah memahami definisinya, penting untuk mengetahui dampak iman dalam kehidupan. Iman bukan sekadar teori teologis, melainkan memiliki fungsi vital bagi psikologis dan sosial manusia:
Iman itu bersifat dinamis, bisa bertambah dan berkurang (yazidu wa yanqus). Ia bertambah dengan ketaatan dan amal saleh, serta berkurang dengan kemaksiatan. Oleh karena itu, menjaga kualitas iman adalah tugas seumur hidup bagi setiap Muslim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved