Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Jejak Migrasi Manusia di Balik Misteri Babi yang Menyeberangi Garis Wallace

Thalatie K Yani
03/1/2026 12:17
Jejak Migrasi Manusia di Balik Misteri Babi yang Menyeberangi Garis Wallace
Ilustrasi(freepik)

LEBIH dari seabad lalu, Alfred Russel Wallace memetakan garis imajiner yang memisahkan dunia biologis di Indonesia. Di sisi barat (Asia), kita menemukan kera dan harimau, sementara di sisi timur (Australasia), wilayah tersebut didominasi marsupial. Meski sebagian besar spesies tidak mampu menyeberangi celah tersebut secara alami, babi adalah pengecualian. Bukan karena mereka pelaut yang hebat, melainkan karena bantuan manusia.

Sebuah studi internasional terbaru yang menganalisis lebih dari 700 genom babi mengungkap selama puluhan ribu tahun, manusia telah membawa babi melintasi pulau-pulau di Nusantara. Migrasi ini menciptakan garis keturunan invasif yang kini membentang dari Asia Tenggara hingga sudut terpencil Polinesia.

Pionir dari Zaman Es

Jejak paling awal terdeteksi sekitar 50.000 tahun yang lalu di Sulawesi. Para penghuni pulau tersebut, yang juga dikenal sebagai pembuat seni cadas tertua di dunia, tidak hanya melukis babi kutil Sulawesi, tetapi juga membawanya ke wilayah selatan dan timur hingga ke Timor. Tujuannya kemungkinan besar adalah untuk membangun stok hewan buruan di masa depan.

Sekitar 4.000 tahun lalu, tempo perpindahan ini berubah seiring munculnya masyarakat agraris. Berawal dari Taiwan, babi domestik dibawa melalui Filipina ke Maluku, Papua Nugini, hingga mencapai Vanuatu. Di setiap persinggahan, babi-babi ini kawin silang dengan spesies lokal atau liar. Di Pulau Komodo, misalnya, babi saat ini merupakan hasil persilangan antara babi domestik dan babi kutil kuno Sulawesi, yang kini menjadi sumber makanan utama bagi komodo.

Persimpangan Genetik di Masa Kolonial

Kisah ini tidak berhenti di masa prasejarah. Tim peneliti juga menemukan jejak genetik babi Eropa yang dibawa selama masa kolonial, menambah lapisan baru dalam "wadah peleburan" genetik di wilayah Pasifik.

"Babi hutan tersebar di seluruh Eurasia dan Afrika Utara dan tentu saja tidak butuh bantuan manusia untuk menyebar ke daerah baru," kata Greger Larson, Profesor dari University of Oxford. "Namun, saat manusia membantu, babi sangat bersedia untuk menyebar di pulau-pulau yang baru dikolonisasi di Asia Tenggara dan Pasifik."

Dilema Konservasi

Temuan ini menantang label tradisional antara spesies "asli" dan "invasif". Jika sebuah spesies telah ada selama puluhan ribu tahun dan menjadi bagian penting dari ekosistem lokal, apakah mereka layak mendapatkan upaya konservasi?

"Pertanyaan besarnya sekarang adalah, pada titik mana kita menganggap sesuatu sebagai spesies asli? Bagaimana jika manusia memperkenalkan spesies tersebut puluhan ribu tahun yang lalu?" ujar Laurent Frantz, Profesor dari Queen Mary University of London.

Studi ini membuktikan migrasi manusia adalah kekuatan biologis. Para pelaut kuno tidak hanya membawa budaya, tetapi juga mengubah ekosistem pulau selamanya. Memahami sejarah ini menjadi kunci bagi kebijakan konservasi masa depan yang harus mempertimbangkan genetika, ekologi, dan kebutuhan masyarakat setempat secara kasus per kasus. (Eaarth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya