Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Ibadallah atau yang lebih dikenal dengan syiir Ibadallah Rijalallah merupakan salah satu qasidah yang sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia, khususnya bagi mereka yang gemar menghadiri majelis taklim, istighosah, dan dzikir bersama. Qasidah ini berisi untaian doa dan tawassul (perantara) kepada Allah SWT melalui perantara hamba-hamba-Nya yang saleh, yakni para Wali Allah (Auliya). Di dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, melantunkan syair ini sering dilakukan saat seseorang sedang menghadapi kesulitan atau memiliki hajat yang mendesak, dengan harapan Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya.
Secara bahasa, kalimat Ibadallah Rijalallah memiliki arti "Wahai Hamba-hamba Allah, Wahai Laki-laki (Jantan/Pemberani) Allah". Istilah ini merujuk kepada para kekasih Allah yang telah mencapai derajat kewalian tinggi. Membaca qasidah ini bukan berarti menyembah kepada selain Allah, melainkan memohon doa restu dan keberkahan dari orang-orang yang dekat dengan Allah, sebagaimana konsep tawassul yang diperbolehkan oleh para ulama salaf.
Keberadaan para Wali Allah ini pun telah disinggung dalam Al-Qur'an. Allah SWT menegaskan kemuliaan mereka yang tidak memiliki rasa takut dan sedih. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surat Yunus ayat 62, yang menjelaskan posisi istimewa para kekasih Allah tersebut.
Bagi Anda yang ingin mengamalkan atau menghafalkan qasidah ini, berikut adalah teks lengkap Ibadallah Rijalallah dalam tulisan Arab, Latin, beserta terjemahan bahasa Indonesia agar kita dapat meresapi maknanya secara mendalam.
عِبَادَ اللهِ رِجَالَ اللهِ - أَغِيْثُوْنَا لِأَجْلِ اللهِ
'Ibâdallâh rijâlallâh - Aghîtsûnâ li ajlillâh
"Wahai hamba-hamba Allah, wahai laki-laki Allah (Wali Allah). Tolonglah kami karena Allah."
وَكُوْنُوْا عَوْنَنَا لِلّهِ - عَسَى نَحْظَى بِفَضْلِ اللهِ
Wa kûnû 'aunanâ lillâh - 'Asâ nahdhô bi fadlillâh
"Dan jadilah penolong kami karena Allah, semoga kami memperoleh anugerah Allah."
وَيَاأَقْطَابُ وَيَاأَنْجَابُ - وَيَاسَادَاتُ وَيَاأَحْبَابُ
Wa yâ aqthôb wa yâ anjâb - Wa yâ sâdât wa yâ ahbâb
"Wahai para Wali Qutub, wahai para Wali yang mulia. Wahai para Sayyid dan para kekasih (Allah)."
وَأَنْتُمْ يَا أُوْلِى الْأَلْبَابِ - تَعَالَوْا وَانْصُرُوْا لِلّهِ
Wa antum yâ ulil albâb - Ta'âlau wanshurû lillâh
"Dan wahai engkau yang memiliki akal sempurna. Marilah datang dan tolonglah kami karena Allah."
سَأَلْنَاكُمْ سَأَلْنَاكُمْ - وَلِلزُّلْفَى رَجَوْنَاكُمْ
Sa-alnâkum sa-alnâkum - Wa lizzulfâ rojaunâkum
"Kami meminta kepada kalian, kami meminta kepada kalian. Dan demi kedekatan (dengan Allah) kami mengharap kepada kalian."
وَفِيْ أَمْرٍ قَصَدْنَاكُمْ - فَشُدُّوْا عَزْمَكُمْ لِلّهِ
Wa fî amrin qoshodnâkum - Fasyuddû 'azmakum lillâh
"Dan dalam suatu urusan (hajat) kami bermaksud kepada kalian. Maka perkuatlah tekad kalian karena Allah."
فَيَا رَبِّيْ بِسَادَاتِيْ - تَحَقَّقْ لِيْ مُرَادَاتِيْ
Fa yâ robbî bi sâdâtî - Tahaqqoq lî murôdâtî
"Wahai Tuhanku, dengan perantara tuan-tuanku (para Wali). Kabulkanlah maksud-maksudku."
عَسَى تَأْتِيْ بِشَارَاتِيْ - وَيَصْفُوْ وَقْتُنَا لِلّهِ
'Asâ ta'tî bisyârôtî - Wa yashfû waqtunâ lillâh
"Semoga lekas datang kabar gembiraku. Dan waktu kami menjadi jernih (bersih/bahagia) karena Allah."
بِكَشْفِ الْحَجْبِ عَنْ عَيْنِيْ - وَرَفْعِ الْبَيْنِ مِنْ بَيْنِيْ
Bi kasyfil hajbi 'an 'ainî - Wa raf'il baini min bainî
"Dengan terbukanya tirai penutup dari mataku. Dan hilangnya penghalang antara aku (dan Allah)."
وَصَلَّى اللهُ مَوْلَانَا - عَلَى مَنْ بِالْهُدَى جَانَا
Wa shollallâhu maulânâ - 'Alâ man bil hudâ jânâ
"Dan semoga Allah, Tuhan kami, melimpahkan rahmat. Kepada seseorang (Nabi Muhammad) yang datang membawa petunjuk kepada kami."
وَمَنْ بِالْحَقِّ أَوْلَانَا - شَفِيْعِ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
Wa man bil haqqi aulânâ - Syafî'il kholqi 'indallâh
"Dan seseorang yang memberikan kebenaran kepada kami. Pemberi syafaat bagi makhluk di sisi Allah."
Syair Ibadallah Rijalallah memiliki kandungan makna spiritual yang sangat dalam. Inti dari qasidah ini adalah pengakuan seorang hamba yang lemah di hadapan Allah SWT, sehingga ia membutuhkan dukungan doa dari hamba-hamba Allah yang lebih saleh dan dekat dengan-Nya (Wali Allah). Berikut adalah poin-poin penting dalam kandungan syair tersebut:
Qasidah ini tergolong evergreen dan fleksibel untuk dibaca kapan saja. Namun, ada beberapa momen khusus di mana syair ini sering dilantunkan untuk menambah kekhusyukan dan keberkahan:
Dengan memahami lirik dan makna Ibadallah Rijalallah, semoga kita dapat melantunkannya dengan penuh penghayatan. Bukan sekadar nyanyian, melainkan sebagai munajat tulus seorang hamba yang merindukan pertolongan Tuhannya melalui keberkahan orang-orang saleh. Jangan lupa untuk senantiasa memperbaiki ibadah wajib dan sunnah, karena itulah jalan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved